Krisis kelaparan yang melanda Jalur Gaza semakin memperlihatkan dampak jangka panjang yang mengkhawatirkan bagi anak-anak Palestina, mulai dari malnutrisi akut hingga gangguan pertumbuhan yang permanen. Situasi ini tidak hanya mengancam kelangsungan hidup mereka, tetapi juga merusak perkembangan kognitif dan masa depan generasi muda di wilayah tersebut.
Dampak nyata dari krisis ini turut dialami Amira Rashid, gadis berusia enam tahun. Ia kini hanya memiliki berat 12,5 kilogram dan tinggi satu meter. Dokter menyebut usia tulangnya setara dengan anak berusia dua tahun. Kondisi tersebut muncul setelah ia mengalami malnutrisi akut parah selama agresi.
Kondisi serupa juga menimpa anak-anak sejak dalam kandungan. Amna Abu al-Hasani lahir secara prematur dengan berat badan hanya 1,2 kilogram setelah ibunya mengalami kekurangan gizi parah selama masa kehamilan. Bayi tersebut kini menderita stunting parah serta komplikasi serius pada organ jantung, ginjal, dan paru-paru.
Baca juga: Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina
Berdasarkan data Integrated Food Security Phase Classification (IPC), sedikitnya 132.000 anak di bawah usia lima tahun diproyeksikan mengalami malnutrisi akut hingga Juni 2026. Selain itu, lebih dari 74.000 anak masih membutuhkan perawatan intensif untuk mengatasi malnutrisi akut hingga April 2027.
Namun, upaya penanganan kelaparan di Gaza semakin sulit karena layanan kesehatan terbatas. Setiap hari rumah sakit menerima puluhan anak yang menderita malnutrisi, sementara fasilitas dan tenaga medis tidak mencukupi. Di sisi lain, makanan yang mendapat izin masuk belum mampu mengatasi kelaparan Gaza. Harga buah dan sayuran sangat mahal, akibat pembatasan pasokan makanan bergizi.
Di tengah hancurnya infrastruktur dan berlanjutnya blokade, malnutrisi terus memperbesar risiko stunting secara masif. Krisis kemanusiaan di Gaza kini telah bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan tumbuh kembang generasi masa depan.
Sumber: MEE








