Pelanggaran Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata kembali merenggut korban jiwa. Sedikitnya tujuh orang, termasuk seorang anak, terbunuh dan 12 korban lainnya mengalami luka-luka setelah serangan drone Israel menghantam sebuah kafe di pelabuhan sebelah barat Kota Gaza.
Petugas kesehatan Gaza mengatakan salah seorang korban mengalami luka sangat parah hingga tubuhnya tidak dapat dikenali. Rumah Sakit Al-Shifa menerima enam jenazah dan 13 korban luka. Namun, salah satu korban kemudian meninggal akibat luka yang ia derita.
Saksi mata Mohammed Alghoul mengatakan pesawat Israel menembakkan dua rudal ke kafe “Sweet and Bitter”. Sementara itu, laporan Al Jazeera Arabic menyebut sebagian korban terpental hingga ke laut akibat kuatnya ledakan.
Baca juga: Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina
Pasukan Israel mengeklaim serangan tersebut menargetkan sejumlah komandan Hamas di kawasan Al-Shati. Mereka juga mengklaim telah mengambil langkah untuk mengurangi risiko terhadap warga sipil. Namun, militer Israel tidak memberikan bukti terkait seluruh klaim tersebut dan tidak menjelaskan kematian anak dalam serangan.
Di sisi lain, Hamas mengecam keras serangan tersebut sebagai pembantaian brutal yang menunjukkan pengabaian total terhadap seruan internasional maupun gencatan senjata yang ada. Mereka mendesak para mediator untuk segera menekan Israel agar mematuhi kesepakatan dan peta jalan perdamaian yang telah dirumuskan. Pelanggaran ini sendiri terjadi berselang sehari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyetujui tahapan lanjutan dari rencana terkait pengamanan wilayah tersebut.
Menurut sumber medis, hingga Senin, sedikitnya 73.399 warga Palestina telah terbunuh sejak awal agresi genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023. Sebanyak 174.310 orang lainnya mengalami luka. Selain itu, sedikitnya 1.265 warga Palestina terbunuh sejak kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas berlaku pada Oktober 2025.
Sumber: MEE








