JAKARTA — Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International sekaligus Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), menghadiri Konsolidasi Ormas dan Filantropi Islam atas Penculikan WNI oleh Zionis Israel dalam misi Global Sumud Flotilla di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat Jakarta, pada Kamis (21/5).
Pada forum ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengundang lembaga filantropi nasional serta media massa. Tak hanya itu, MUI juga menyoroti lembaga filantropi dan media yang anggotanya turut menjadi delegasi dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla.
Penculikan WNI oleh Israel di Laut Internasional merupakan Pelanggaran Hukum

Ustadz Jajang Nurjaman yang mewakili GPCI menjelaskan bahwa Israel membajak kapal serta menculik para aktivis saat intersepsi di laut internasional, sekitar 200 mil dari Gaza.
Padahal, para relawan Global Sumud Flotilla merupakan aktivis sipil yang menjalankan misi kemanusiaan, bukan pelaku kriminal.
“Laut internasional adalah milik bersama. Israel tidak memiliki dasar hukum untuk melakukan intersepsi, penangkapan, apalagi penculikan terhadap relawan sipil,” ujarnya.
Prof. Heru Susetyo turut menyampaikan pandangannya terkait peristiwa ini. Akademisi Universitas Indonesia tersebut menegaskan bahwa tindakan Israel merupakan bentuk penculikan karena terjadi di laut bebas.
“Kami tegaskan bahwa ini adalah penculikan, karena intersepsi dilakukan di laut bebas. Israel tidak punya kewenangan untuk melakukan pengecekan, penangkapan, apalagi penculikan, karena ini bukan laut teritorial dia,” tegasnya.
Prof. Heru sebelumnya juga turut menghadiri Global Sumud Parliamentary Congress di Brussels, Belgia, sebagai bagian dari upaya advokasi internasional untuk Palestina dalam gerakan Global Sumud Flotilla.
Sejumlah lembaga yang delegasinya turut diculik juga menyampaikan kondisi terkini para aktivis Indonesia.
Rumah Zakat menyampaikan bahwa relawannya yang turut serta dalam Global Sumud Land Convoy, konvoi jalur darat, masih tertahan di Libya dan belum bisa melanjutkan perjalanan menuju Gaza.
Sementara itu, Republika yang diwakili Andi Muhyiddin selaku Pemimpin Redaksi menyampaikan keprihatinan mendalam atas penculikan dua jurnalisnya yang mengikuti misi tersebut untuk meliput kondisi kemanusiaan di Gaza.
“Jurnalisme tidak boleh dibungkam dengan intimidasi dan penculikan. Suara kemanusiaan harus terus berbunyi,” ujarnya.
Selain itu, Dompet Dhuafa menyoroti risiko keselamatan para WNI. Menurut mereka, semakin lama para aktivis ditawan, maka risiko bahaya yang dihadapi akan semakin besar.
MUI: Membela Palestina Adalah Sikap Kemanusiaan dan Keagamaan

Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar, menegaskan bahwa kepedulian terhadap Palestina merupakan bagian dari ajaran agama dan tanggung jawab kemanusiaan.
Menurutnya, tindakan Israel bertentangan dengan prinsip kemanusiaan, hukum humaniter, dan nilai-nilai konstitusi Indonesia.
“Tidak ada alasan bagi siapa saja di negara ini untuk tidak peduli. Terlebih, ini sudah menyangkut warga bangsa kita,” ujar KH Anwar Iskandar.
MUI menilai langkah pemerintah Indonesia sudah berjalan, namun masih perlu menempuh jalur diplomasi internasional yang lebih tegas.
Selain pernyataan sikap, MUI juga mendorong bantuan nyata bagi Palestina melalui penguatan bantuan kemanusiaan dan solidaritas umat.
12 Tuntutan untuk Pembebasan WNI dan Perlindungan Misi Kemanusiaan

MUI menyampaikan 12 poin tuntutan atas penculikan aktivis WNI dalam misi Global Sumud Flotilla, yaitu:
- Mengutuk keras penangkapan relawan kemanusiaan WNI oleh Zionis Israel karena bertentangan dengan nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, dan hukum internasional.
- Mendesak Pemerintah Indonesia bergerak cepat dan maksimal dalam melindungi keselamatan, hak, serta memperjuangkan pembebasan WNI melalui langkah diplomatik dan perlindungan internasional.
- Mendorong Pemerintah Indonesia mengajak negara-negara lain untuk memberikan tekanan internasional demi perlindungan relawan kemanusiaan dan pembukaan akses bantuan ke Gaza.
- Mendorong pertemuan dan koordinasi langsung dengan Presiden RI, Kementerian Luar Negeri, serta pihak terkait untuk membahas perlindungan WNI dan langkah diplomatik Indonesia.
- Mengirimkan surat resmi kepada Presiden RI, PBB, OKI, International Committee of the Red Cross, Red Crescent, dan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies.
- Menyerukan kepada khatib, dai, dan tokoh umat agar menyampaikan pesan solidaritas Palestina dalam khutbah Jumat, Iduladha, dan forum keumatan lainnya.
- Mengonsolidasikan ormas Islam, tokoh bangsa, masyarakat sipil, lembaga kemanusiaan, dan elemen strategis umat dalam gerakan solidaritas nasional untuk Palestina.
- Menggalang bantuan nyata berupa dukungan dana, medis, pendidikan, logistik, dan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza melalui koordinasi lembaga filantropi dan kemanusiaan.
- Mengedukasi umat mengenai dukungan terhadap Palestina, termasuk penguatan ekonomi umat, seruan boikot, dan pola konsumsi yang berpihak pada nilai keadilan.
- Membentuk pusat koordinasi atau crisis center untuk advokasi, informasi, komunikasi, serta penguatan jaringan bantuan terkait Palestina dan perlindungan WNI.
- Mengajak umat Islam memperbanyak doa dan qunut nazilah sebagai bentuk solidaritas spiritual untuk Palestina dan keselamatan relawan kemanusiaan.
- Menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina harus dilakukan secara damai, konstitusional, bermartabat, serta tetap menjaga persatuan bangsa dan stabilitas nasional.
Agenda kemudian berlanjut dengan doa bersama untuk para aktivis oleh Ketua MUI KH Abdul Manan Ghani.
Mari terus kawal keselamatan para delegasi kemanusiaan Indonesia hingga kembali ke tanah air dengan aman dan selamat.







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)