Perempuan Gaza menghadapi dampak berat selama tiga tahun agresi yang terus berlanjut. Berdasarkan data dari lembaga nasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), krisis ini mencakup tingginya angka kematian, luka-luka, orang hilang, serta kemerosotan drastis pada sektor kesehatan reproduksi.
Biro Statistik Pusat Palestina mencatat 12.400 perempuan terbunuh di Gaza sejak 7 Oktober 2023. Selain itu, perempuan dan anak-anak mencakup 4.700 dari 11.200 orang yang dilaporkan hilang.
UN Women memperkirakan lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan terbunuh antara Oktober 2023 hingga Desember 2025. Sementara itu, sekitar 11.000 lainnya mengalami luka yang menyebabkan dampak jangka panjang.
Keruntuhan layanan kesehatan juga memperburuk kondisi perempuan Gaza. Banyak ibu hamil kesulitan memperoleh pemeriksaan kehamilan dan layanan persalinan. Sebagian bahkan terpaksa melahirkan di rumah atau tempat pengungsian.
Baca juga: 11.900 Perempuan Gaza Terbunuh Selama Genosida
Lonjakan kasus keguguran juga tercatat sangat mengkahwatirkan. Physicians for Human Rights mencatat 2.600 kasus keguguran selama paruh pertama 2025. Laporan tersebut juga mencatat 220 kematian terkait kehamilan dan 1.460 kelahiran prematur.
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa sekitar 3.958 kasus keguguran terjadi pada periode Januari hingga Juni 2026. Angka keguguran tersebut mencapai 208,5 kasus per 1.000 kelahiran hidup, yang berarti sekitar 3,3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan paruh kedua tahun 2025.
Krisis kelaparan yang meluas turut memperbesar risiko kesehatan bagi ibu dan bayi. Pada Juli 2025, sekitar 40 persen perempuan hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi, yang secara langsung meningkatkan ancaman berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, bayi lahir mati (stillbirth), hingga kematian ibu.
Selain ancaman keselamatan dan kesehatan, agresi berkepanjangan ini turut mengubah struktur sosial masyarakat Gaza secara drastis. Laporan UN Women mengungkapkan bahwa jumlah rumah tangga di Gaza yang dikepalai oleh perempuan mengalami peningkatan dari 9 persen menjadi 14 persen, atau mencakup sekitar 58.600 rumah tangga.
Akibat kehilangan pasangan, anggota keluarga, maupun sumber pencaharian utama, para perempuan di Gaza kini harus memikul beban ganda yang jauh lebih berat dalam hal ekonomi, pencarian nafkah, sekaligus pengasuhan keluarga seorang diri di tengah situasi pengungsian yang serba terbatas.
Sumber: MEMO








