Setahun setelah gencatan senjata Gaza berlaku, Media Pemerintah Gaza mencatat ribuan pelanggaran oleh Israel. Berdasarkan data resmi pemerintah, tercatat sebanyak 5.304 pelanggaran gencatan senjata terjadi selama kurun waktu satu tahun terakhir.
Pelanggaran tersebut menyebabkan 1.460 warga Palestina terbunuh, 5.116 lainnya terluka, dan 202 orang Israel culik. Media Pemerintah Gaza menilai kesepakatan tersebut gagal menghentikan serangan Israel.
Selain itu, realisasi arus masuk bantuan kemanusiaan jauh dari jumlah dalam kesepakatan sebelumnya. Dari total 214.800 truk bantuan yang dijadwalkan, hanya 74.283 truk bantuan yang berhasil memasuki wilayah Gaza.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat realisasi pengiriman bantuan belum mencapai 35 persen dari komitmen yang ada. Tidak hanya menghambat pasokan logistik, pembatasan ketat juga Israel berlakukan terhadap mobilitas warga sipil yang ingin keluar dari wilayah kantong tersebut.
Baca juga: 82 Persen Bangunan Gaza Rusak Akibat Serangan Israel
Tercatat hanya 14.012 orang yang diizinkan meninggalkan Gaza dari total 36.000 warga yang seharusnya memegang izin keluar. Kondisi ini membuat Media Pemerintah Gaza menegaskan bahwa pembatasan berlapis tersebut semakin memperparah krisis kemanusiaan yang melanda.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan gencatan senjata Gaza menjadi permanen. Ia menyampaikan seruan tersebut menjelang tiga tahun peristiwa 7 Oktober. Menurut Guterres, gencatan senjata Gaza harus membuka akses bantuan kemanusiaan dalam skala besar. Ia juga menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional.
Ia menekankan bahwa warga Palestina telah menderita akibat kehilangan nyawa, gelombang pengungsian masif, serta kehancuran infrastruktur dalam skala yang luar biasa besar, sehingga penderitaan tersebut harus segera diakhiri.
Meski mengakui bahwa kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025 sempat memberikan sedikit kelegaan yang terbatas bagi warga, Guterres menilai kesepakatan tersebut hingga kini belum mampu menghadirkan faktor keamanan yang nyata, pasokan bantuan yang memadai, ataupun jalur pemulihan yang kredibel bagi masa depan Gaza.







