Ketidakpastian hingga kini masih menyelimuti ribuan keluarga di Jalur Gaza yang kehilangan anggota keluarga mereka sejak mulainya agresi militer. Tiga tahun setelah perang berkecamuk, nasib para kerabat yang hilang belum juga menemui titik terang.
Berdasarkan laporan Independent Commission for Human Rights, tercatat lebih dari 11.000 orang di Gaza masih belum diketahui keberadaannya. Mereka terdiri dari korban yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat serangan serta individu yang mengalami penghilangan paksa.
Sementara itu, Palestinian Centre for Missing and Forcibly Disappeared memperkirakan ada sekitar 2.500 hingga 3.000 orang yang kemungkinan besar mengalami penghilangan paksa. Mereka hilang atau terputus kontaknya dengan keluarga sejak awal agresi militer hingga berlakunya gencatan senjata pada 9 Oktober 2025.
Nasib sebagian warga Gaza yang hilang masih belum teridentifikasi. Otoritas Israel belum memberikan daftar lengkap warga Gaza yang mereka tahan. Selain itu, sekitar 620 jenazah yang Israel kembalikan ke Gaza belum teridentifikasi.
Sebagian besar warga hilang dalam berbagai situasi genting, seperti saat operasi darurat serangan darat, proses evakuasi, upaya mencari bantuan kemanusiaan, atau ketika berada di sekitar kawasan Yellow Line. Kondisi ini membuat keluarga harus hidup dalam kecemasan tanpa kepastian apakah kerabat mereka masih hidup, mendekam di tahanan, terkubur di reruntuhan, atau termasuk dalam daftar jenazah yang belum teridentifikasi.
Kisah keluarga Hajjaj menunjukkan panjangnya penantian tersebut. Saeed Hajjaj dan putranya, Qasem, terakhir terlihat ketika pasukan Israel menahan mereka pada 26 Desember 2023. Hingga kini, keluarga mereka belum memperoleh informasi tentang keberadaan keduanya.
Bagi para keluarga korban hilang di Gaza, ketiadaan kepastian ini menciptakan dilema emosional yang berat, membuat mereka sulit menentukan apakah harus merelakan atau terus menaruh harapan. Penantian tanpa ujung ini menjelma menjadi bagian dari realitas pahit kehidupan sehari-hari yang harus mereka tanggung selama bertahun-tahun.
Sumber: MEE








