Pertarungan narasi terkait Palestina kini berlangsung tidak hanya di lapangan, tetapi juga di ruang digital. Dalam webinar yang digelar Global Alliance for Palestine pada 7 April 2026 di London, para pakar mengulas strategi menghadapi hasbara, propaganda yang didukung negara–Inggris, serta cara membongkarnya.
Ketua sesi, Lujane Abdullah, menyebut kondisi saat ini sebagai “perang informasi yang disponsori negara–Inggris”. Ia mengungkapkan bahwa ratusan juta dolar dialokasikan untuk kampanye media sosial dan memengaruhi sistem kecerdasan buatan (AI) sepanjang 2026.
Akademisi Miriyam Aouragh menjelaskan konsep “manufacturing discontent”, yakni upaya sistematis menciptakan keraguan terhadap pengalaman Palestina. Menurutnya, propaganda Israel menghadapi tantangan baru karena realitas di lapangan kini disiarkan secara langsung. Ia menyarankan aktivis untuk tidak terjebak merespons setiap disinformasi, melainkan membagi peran antara pembantah fakta dan penggerak aksi.
Sementara itu, Nadim Nashif menyoroti bias platform digital seperti Meta dan Google, yang dinilai lebih ketat menyaring konten berbahasa Arab dibandingkan bahasa Ibrani. Ia juga mengungkap adanya koordinasi antara unit propaganda dan perusahaan teknologi untuk membatasi jangkauan suara Palestina.
Dari sisi investigasi, Tariq Kenney-Shawa menekankan pentingnya penggunaan Open-Source Intelligence untuk membongkar disinformasi. Namun, ia mengingatkan bahwa bukti saja tidak cukup tanpa tekanan politik yang nyata.
Peneliti Hala Hanina menambahkan bahwa narasi menyesatkan kerap digunakan untuk membenarkan kekerasan, sementara jurnalis Anas Ambri menunjukkan cara melacak pendanaan kampanye propaganda melalui jejak digital.
Para pembicara sepakat bahwa strategi ke depan harus beralih dari sekadar klarifikasi fakta menuju pembangunan kekuatan politik. Tujuannya adalah mengubah kesadaran publik menjadi tekanan nyata yang mampu mendorong akuntabilitas.
Sumber: MEMO








