Krisis bantuan Gaza semakin memburuk akibat kekurangan dana yang lembaga kemanusiaan alami. Hal ini mengancam layanan penting bagi jutaan warga yang masih bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, krisis bantuan Gaza dikhawatirkan akan memperparah kondisi kemanusiaan yang sudah sangat rapuh. PBB juga memperingatkan bahwa krisis bantuan Gaza menyebabkan berbagai layanan mulai berkurang atau berhenti sehingga berisiko memperluas penderitaan warga di seluruh wilayah tersebut.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan kebutuhan dana kemanusiaan untuk Gaza dan Tepi Barat mencapai USD 4,1 miliar. Namun, hingga pertengahan tahun, pendanaan yang tersedia masih kurang dari 15 persen dari kebutuhan tersebut.
Menurut PBB, keterbatasan dana melemahkan kemampuan organisasi kemanusiaan untuk merencanakan, menyiapkan, dan menyalurkan bantuan. Padahal, sekitar 2,1 juta penduduk Gaza masih mengungsi dan sangat bergantung pada layanan kemanusiaan.
Selain itu, akses terhadap air bersih semakin terancam. Empat organisasi kemanusiaan mulai menghentikan secara bertahap layanan distribusi air menggunakan truk tangki. Akibatnya, lebih dari 330 ribu warga di sekitar 250 lokasi berisiko kehilangan sumber utama air minum mereka.
Distribusi makanan juga mengalami penurunan tajam. Hingga pekan lalu, lebih dari 20 organisasi menyalurkan sekitar 678 ribu porsi makanan per hari, dibandingkan dengan pertengahan Maret yang mencapai 1,5 juta porsi per hari.
PBB mendesak negara-negara donor agar segera meningkatkan dukungan finansial. PBB juga meminta negara-negara anggota menekan Israel agar mencabut berbagai pembatasan yang menghambat operasi kemanusiaan di lapangan.
Sementara itu, di Tepi Barat, PBB melaporkan 27 keluarga penggembala Palestina yang terdiri dari 125 orang terpaksa meninggalkan komunitas mereka di dekat mata air Ein Fera’a, Al-Khalil (Hebron), setelah menghadapi intimidasi dan tekanan dari pemukim kolonial Israel.








