Menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) pada Ahad (12/4), menandai eskalasi terbaru setelah pembukaan kembali situs suci tersebut pascapenutupan selama 40 hari.
Menurut sumber lokal, Ben-Gvir memasuki kawasan melalui Gerbang al-Maghariba bersama puluhan pemukim, di bawah pengawalan ketat polisi Israel. Selama berada di dalam kompleks, ia dan sejumlah pemukim melakukan ritual Talmudik di halaman masjid, termasuk di sekitar Kubah Batu.
Penyerbuan ini merupakan yang kedua dalam sepekan dan setidaknya yang ke-16 sejak Ben-Gvir menjabat pada 2023. Aksi tersebut melanggar status quo yang mendapat pengakuan secara internasional, yang menetapkan bahwa Masjid Al-Aqsa merupakan situs ibadah eksklusif bagi umat Islam.
Baca juga : “Eskalasi di Al-Aqsa: Upaya Kurban dan Penutupan Situs Suci“
Bersamaan dengan itu, aparat Israel membatasi akses jemaah Muslim, bahkan memaksa mereka keluar dari area masjid usai salat Subuh. Pembatasan pergerakan warga Palestina juga berlaku di sekitar Kota Tua Al-Quds (Yerusalem).
Sejak pembukaan kembali Al-Aqsa, otoritas Israel juga memperpanjang durasi kunjungan pemukim menjadi sekitar 6,5 jam per hari, dari pukul 06.30 hingga 11.30 dan 13.30 hingga 15.00. Pemerintah Al-Quds menyebut langkah ini sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengarah pada upaya pembagian waktu (temporal division) di dalam kompleks.
Penutupan total Al-Aqsa sebelumnya, termasuk selama Ramadan dan Idulfitri, merupakan yang pertama sejak pendudukan Israel atas Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) pada 1967, memicu kekhawatiran atas perubahan permanen terhadap status situs suci tersebut.
Kelompok Palestina mengecam tindakan tersebut sebagai provokasi serius dan bagian dari upaya sistematis mengubah identitas religius Al-Quds. Mereka menegaskan bahwa pelanggaran berulang ini berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan.








