Situasi di Al-Quds (Yerusalem) menunjukkan eskalasi serius, terutama terkait pembatasan di kawasan Masjid Al-Aqsa. Kondisi ini terlihat sebagai upaya mengubah status quo dan memperkuat kontrol Israel atas situs suci tersebut.
Selama perayaan Paskah Yahudi (Pesach) tahun ini, otoritas Palestina melaporkan tujuh upaya penyelundupan hewan kurban ke dalam kompleks Al-Aqsa—jumlah tertinggi sejak 1967. Dalam beberapa kasus, pemukim bahkan berhasil mendekati Kota Tua dengan membawa hewan. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya ritual di area yang mereka sebut “Temple Mount”.
Tindakan ini terlihat sebagai eskalasi berbahaya yang bertujuan menciptakan realitas baru di Al-Aqsa, sekaligus melanggar kesucian dan mengubah identitas kawasan tersebut.
Situasi semakin memburuk dengan penutupan Masjid Al-Aqsa dan Church of the Holy Sepulchre selama lebih dari satu bulan. Israel menyebut langkah tersebut mereka ambil dengan alasan keamanan. Namun, pihak Palestina menilai hal tersebut sebagai upaya membatasi akses ibadah umat Islam dan Kristen.
Dampaknya, salat Jumat tidak dapat berlangsung normal. Area masjid menjadi kosong, bahkan selama Ramadan, ratusan ribu jamaah tidak dapat mengakses Al-Aqsa.
Khatib Masjid Al-Aqsa, Ekrima Sabri, memperingatkan bahwa langkah Israel ini mengarah pada penguasaan penuh atas masjid. Ia menegaskan bahwa Al-Aqsa memiliki kedudukan penting bagi umat Islam dan menyerukan tekanan dari negara-negara Arab dan mayoritas muslim untuk membuka kembali akses ibadah.
Di tengah kondisi ini, otoritas Palestina juga memperingatkan meningkatnya kampanye provokasi, termasuk melalui media digital, yang mendorong perubahan status Al-Aqsa.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan adanya peningkatan ketegangan di Al-Quds serta kekhawatiran akan perubahan permanen terhadap status dan karakter situs-situs suci di kota tersebut.
Sumber: Anadolu Agency, Palinfo








