Sebanyak 48.000 siswa pengungsi Palestina secara resmi kembali memulai tahun ajaran baru di 90 sekolah yang Badan Pekerjaan dan Pemulihan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) kelola di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Banda PBB tersebut menyatakan bahwa sekolah UNRWA tetap beroperasi di tengah pengungsian, ketidakamanan, dan berbagai pembatasan. Kondisi tersebut terus mengancam hak anak pengungsi Palestina atas pendidikan.
Dalam rangka menjaga akses pendidikan, pihak sekolah mempersiapkan berbagai kemungkinan. Mereka menyediakan ruang belajar darurat, penerapan metode pembelajaran jarak jauh, serta distribusi materi belajar mandiri.
Sekitar separuh siswa pengungsi asal Kamp Tulkarem dan Kamp Nur Shams berhasil kembali masuk sekolah setelah sebelumnya mengalami gangguan pendidikan parah akibat pengungsian paksa. Direktur UNRWA untuk Tepi Barat, Roland Friedrich, menyampaikan bahwa tahun ajaran baru ini membawa secercah harapan baru. Ini berlangsung meski anak-anak Palestina secara keseluruhan masih harus menghadapi bayang-bayang ketidakpastian akibat kekerasan dan instabilitas yang masif.
Di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) yang diduduki, enam sekolah UNRWA masih Israel tutup paksa sejak Mei 2025. Penutupan tersebut berdampak pada sekitar 800 anak pengungsi Palestina.
Selain itu, penggerebekan dan tindakan Israel di Pusat Pelatihan Qalandiya mengancam kegiatan pendidikan. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu program pelatihan yang UNRWA jalankan.
UNRWA menghadapi tekanan yang meningkat drastis setelah parlemen Israel mengesahkan dua undang-undang pada Oktober 2024. UU tersebut melarang operasional badan PBB tersebut di wilayah Israel sekaligus melarang seluruh pejabat Israel berhubungan dengan UNRWA.
Berdiri pada tahun 1949 melalui mandat Majelis Umum PBB, UNRWA telah lama menjadi tulang punggung penyedia layanan pendidikan dan sosial bagi jutaan pengungsi Palestina. Di tengah gelombang tekanan politik dan legislatif yang masif, badan tersebut menegaskan komitmen penuhnya bahwa pendidikan adalah hak mutlak setiap anak yang harus terus mereka perjuangkan.
Sumber: TRT World







