Walid Khalidi, sejarawan Palestina yang penelitiannya membantu mendokumentasikan Nakba dan membentuk generasi kajian tentang Palestina, meninggal dunia pada usia 100 tahun.
Khalidi, yang mendapat julukan “sejarawan perjuangan Palestina”, meninggal dunia pada Ahad (08/02) di Massachusetts, Amerika Serikat, menurut berita duka dari Institut Studi Palestina (IPS) – pusat penelitian yang ia dirikan pada 1963.
Walid Khalidi Lahir di Al-Quds (Yerusalem) pada 1925 dari keluarga intelektual terkemuka. Khalidi menerima pendidikan awalnya di Ramallah sebelum mengenyam pendidikan di Sekolah St. George di Al-Quds.
Ia kemudian lulus dari Universitas Oxford pada 1951 dan melanjutkan karier akademis yang gemilang. Ia mengajar studi politik di Universitas Amerika Beirut hingga 1982, sebelum menjadi peneliti di Pusat Urusan Internasional Universitas Harvard.
Khalidi terkenal karena dokumentasinya yang teliti tentang penghancuran desa-desa Palestina selama Nakba (Malapetaka), pembersihan etnis Palestina oleh milisi Zionis pada tahun 1948.
Buku pentingnya, All That Remains, yang terbit pada 1992, mencatat bagaimana lebih dari 400 desa Palestina dihancurkan atau dikosongkan selama perang Arab-Israel pertama. Ia menggabungkan penelitian sejarah, peta, dan kesaksian untuk merekonstruksi kehidupan komunitas yang telah lenyap.
Karya besar Khalidi lainnya, Before Their Diaspora, menggunakan foto-foto arsip untuk mendokumentasikan masyarakat Palestina sebelum 1948. Bukunya menawarkan catatan visual langka tentang kehidupan sehari-hari di kota-kota dan desa-desa di seluruh Palestina.
Baca juga : “In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan“
Setelah mengajar beberapa waktu di Oxford, Khalidi menghabiskan beberapa dekade di Universitas Amerika Beirut. Beliau juga mendirikan Institut Studi Palestina, yang berkembang menjadi salah satu organisasi penelitian terkemuka yang ia dedikasikan untuk sejarah, politik, dan masyarakat Palestina.
Khalidi kemudian menjabat sebagai peneliti di Pusat Urusan Internasional Harvard. Ia memberikan kuliah di berbagai institusi termasuk Universitas Princeton di AS, dan terpilih sebagai anggota Akademi Seni dan Sains Amerika.
Di luar dunia akademis, ia juga berperan dalam diplomasi Palestina. Setelah perang tahun 1967, yang kemudian dikenal sebagai Naksa, ketika Israel merebut Tepi Barat, Al-Quds bagian timur, Gaza, Dataran Tinggi Golan Suriah, dan Semenanjung Sinai Mesir, Khalidi beralih ke jalur diplomasi.
Ia menjabat sebagai penasihat delegasi Irak untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, kemudian bergabung dengan delegasi KTT Arab ke pemerintah Inggris pada 1983. Pada pertengahan tahun 1980-an, Khalidi menjabat sebagai penasihat khusus untuk sekretaris jenderal Liga Arab. Ia juga merupakan bagian dari delegasi gabungan Yordania-Palestina ke konferensi perdamaian Madrid tahun 1991.
Bagi banyak sejarawan, warisan Khalidi tidak hanya terletak pada karya ilmiahnya sendiri. Akan tetapi, warisannya juga ada pada lembaga-lembaga yang ia bantu bangun serta generasi mahasiswa dan peneliti yang ia bimbing.
Pada saat sebagian besar catatan sejarah Palestina berisiko tersebar atau hilang, Khalidi mendedikasikan kariernya untuk mendokumentasikannya. Karyanya memastikan bahwa sejarah masyarakat Palestina sebelum dan sesudah tahun 1948 akan tetap menjadi bagian dari catatan sejarah global.
Sumber: Al Jazeera








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)