Seorang jurnalis Palestina terbunuh dalam serangan udara Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah, lapor Serikat Jurnalis Palestina (PJS). Israel membunuh Amal Shamali, seorang koresponden untuk Radio Qatar, pada Senin (09/02). PJS menyebutkan Shamali juga “bekerja dengan beberapa media Arab dan lokal. Ia termasuk di antara para jurnalis yang terus menjalankan misi medianya meskipun serangan dan genosida sedang berlangsung di Jalur Gaza.”
Lebih dari 270 jurnalis dan pekerja media telah meninggal di Gaza sejak Israel melancarkan genosida pada 7 Oktober 2023. “Ini merupakan salah satu periode paling berdarah bagi jurnalis dalam sejarah modern. Hal ini mencerminkan skala penargetan secara sengaja terhadap jurnalisme Palestina. Tindakan ini merupakan upaya membungkam suara kebenaran dan mencegah pendokumentasian kejahatan dan pelanggaran terhadap rakyat Palestina,” kata PJS.
Baca juga : “In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan“
PJS menambahkan: “Menargetkan jurnalis tidak akan berhasil mematahkan tekad komunitas jurnalis Palestina. Ini tidak akan menghalangi mereka memenuhi misi profesional dan kemanusiaannya untuk menyampaikan kebenaran dan mendokumentasikan kejahatan dan agresi yang rakyat Palestina hadapi.”
Serangan Israel telah membunuh sekitar 13 jurnalis setiap bulannya selama lebih dari dua tahun genosida. Angka ini merupakan perhitungan dari Shireen.ps, sebuah situs web pemantauan jurnalis. Namanya terinspirasi dari nama jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, yang pasukan Israel tembak mati di Tepi Barat pada tahun 2022.
Dari para jurnalis tersebut, setidaknya 10 orang bekerja untuk Al Jazeera, termasuk koresponden Al Jazeera berbahasa Arab, Anas al-Sharif, yang telah banyak meliput berita dari Gaza utara.
Genosida Israel di Gaza merupakan agresi paling mematikan bagi para jurnalis. Menurut penelitian dari Universitas Brown, jumlah jurnalis yang terbunuh di Gaza sejak awal genosida pada 7 Oktober 2023 lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jurnalis yang terbunuh dalam Perang Saudara AS, Perang Dunia I dan II, Perang Korea, Perang Vietnam, perang di bekas Yugoslavia, dan perang pasca-9/11 di Afghanistan – jika digabungkan.
Berdasarkan laporan yang rilis awal tahun ini oleh Federasi Jurnalis Internasional (IFJ), tahun 2025 mencatat Palestina sebagai tempat paling mematikan untuk bekerja sebagai jurnalis. IFJ menyatakan bahwa Timur Tengah adalah wilayah paling berbahaya bagi para profesional media. Mereka mencatat 74 kematian tahun lalu – lebih dari setengah dari total 128 jurnalis dan pekerja media yang meninggal. Angka ini diikuti oleh Afrika dengan 18 kematian, Asia Pasifik (15), Amerika (11) dan Eropa (10), menurut laporan tersebut.
Sumber: Palinfo, The Palestine Chronicle, Al Jazeera








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)