Israel terus menutup semua penyeberangan perbatasan Gaza selama sepuluh hari berturut-turut. Hal ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah setelah dua tahun genosida dan di tengah gencatan senjata yang rapuh. Hal ini membuat lebih dari dua juta warga Palestina menghadapi kondisi yang mengerikan.
Penutupan tersebut berlaku juga untuk penyeberangan Rafah, batas antara Gaza dan Mesir, yang baru terbuka kembali pada awal Februari. Sebelumnya, pembukaan memungkinkan sejumlah kecil warga Palestina menyeberang untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, termasuk pasien yang membutuhkan perawatan medis mendesak.
Human Rights Watch menyatakan dalam sebuah laporan bulan Februari bahwa pembatasan bantuan oleh Israel terus menyebabkan kekurangan obat-obatan, peralatan rekonstruksi, makanan, dan air di dalam Jalur Gaza.
Baca juga : OCHA: “Penutupan Perbatasan Oleh Israel Memperburuk Krisis Kemanusiaan”
COGAT Israel dalam pernyataannya mengenai penutupan penyeberangan Gaza mengklaim bahwa cukup banyak makanan telah dikirim ke Gaza sejak awal gencatan senjata. Mereka bahkan mengklaim itu cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk hingga empat kali lipat, tanpa memberikan bukti. Mereka mengatakan “persediaan yang ada akan cukup untuk jangka waktu yang lama.”
Israel juga mengumumkan bahwa rotasi staf kemanusiaan ke Gaza akan mengalami penundaan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di antara kelompok-kelompok bantuan yang sudah berjuang untuk mempertahankan operasi mereka.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada bulan Oktober, Israel terus membatasi akses bantuan kemanusiaan ke Gaza secara ketat. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sejak 10 Oktober 2025 hingga 10 Februari 2026, hanya 31.178 truk yang memasuki Gaza dari total 72.000 truk, dengan rata-rata 260 truk per hari–hanya 43 persen dari truk yang dialokasikan.
Menurut para pengemudi truk, pengiriman bantuan menghadapi penundaan yang signifikan karena inspeksi Israel memakan waktu jauh lebih lama dari perkiraan. Selain itu, Israel telah memblokir barang-barang makanan penting dan bergizi, termasuk daging, produk susu, dan sayuran, yang sangat penting untuk diet seimbang. Sebagai gantinya, makanan yang tidak bergizi diizinkan, seperti camilan, cokelat, keripik, dan minuman tinggi gula.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Jumat bahwa persediaan medis di Gaza sudah sangat menipis. Persediaan beberapa barang seperti kain kasa dan jarum suntik telah habis, kata direktur regional WHO, Hanan Balkhy, mengutip informasi dari Kementerian Kesehatan Palestina.
Balkhy mengatakan bahwa pihaknya berhasil mengimpor beberapa perlengkapan medis dan bahan bakar pada Selasa dan Rabu. Akan tetapi, beberapa truk masih siaga di Al-Arish, Mesir.
Menurutnya, setengah dari 36 rumah sakit di Gaza masih tutup setelah genosida Israel. Rumah sakit yang masih buka pun kesulitan mempertahankan layanan penting seperti operasi, dialisis, dan perawatan intensif.
Sumber: QNN








