Anak-anak penyandang Down syndrome di Gaza harus berjuang keras memulihkan keterampilan yang hilang akibat perang, pengungsian, dan trauma. Mereka juga kehilangan akses terhadap layanan pendidikan serta rehabilitasi setelah serangan menghancurkan pusat perawatan.
Heba Alataar, 13 tahun, kini mengikuti kelas di tenda darurat di Al-Zawaida. Ia merupakan satu dari 1.000 anak dengan Down syndrome yang sebelumnya mendapat layanan dari Right to Live Society (RLS).
Sebelum agresi genosida terjadi, RLS mengoperasikan tiga fasilitas utama yang didukung oleh sekitar 200 staf profesional. Layanan tersebut mencakup intervensi dini, pendidikan khusus, rehabilitasi fisik dan mental, serta konseling psikologis bagi para orang tua.
Baca juga: Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim
Pada usia 10 tahun, Heba sebenarnya telah menunjukkan perkembangan yang signifikan; ia mampu memahami bahasa, berbicara, menjaga kebersihan diri, serta mulai belajar membaca dan menulis. Namun, hancurnya seluruh fasilitas RLS akibat serangan militer Israel sejak Oktober 2023 memutus progres tersebut.
Pengungsian dan ketakutan akibat serangan juga membuat sejumlah anak kehilangan keterampilan dasar. Saja Abed Rabbo, misalnya, bahkan kembali menggunakan popok karena kehilangan kemampuan menggunakan toilet.
Raoufa Salama, direktur program rehabilitasi RLS, menjelaskan bahwa trauma berkepanjangan telah menyebabkan regresi atau kemunduran nyata dalam kemampuan komunikasi serta kemandirian anak-anak dalam menjaga kebersihan diri. Di sisi lain, RLS kini juga harus beroperasi di tengah keterbatasan parah terkait fasilitas dan peralatan pendidikan..
Demi merespons krisis ini, RLS mulai berinisiatif memulihkan sebagian layanannya sejak Juli 2024. Mereka berupaya melalui metode kunjungan rumah, pemberian dukungan psikologis, serta pembukaan kembali program pendidikan dan rehabilitasi alternatif.
Saat ini, RLS melayani lebih dari 1.000 anak penyandang Down syndrome dan autisme melalui tenda-tenda darurat yang didirikan di tiga lokasi berbeda di Gaza. Di tengah minimnya sarana, para guru berkreasi menggunakan kardus bekas bantuan dan kertas berwarna seadanya untuk merancang materi pembelajaran bagi anak-anak.
Meskipun situasi keamanan dan kemanusiaan masih sangat berat, kehadiran program pendidikan darurat ini perlahan-lahan membantu anak-anak penyandang Down syndrome mendapatkan kembali keterampilan mereka. Program tersebut juga sekaligus mengembalikan rutinitas, ruang aman untuk belajar, dan kesempatan untuk terus berkembang
Sumber: MEE








