Pendidikan Palestina kembali menghadapi hambatan berat di Tepi Barat dan Gaza. Pembatasan militer menghambat akses guru, sementara gencatan senjata yang rapuh terus memperburuk kondisi belajar siswa di Gaza.
Di Tepi Barat, penutupan pos pemeriksaan Tayasir dan Ein Shibli menghalangi 104 guru mencapai sekolah mereka. Menurut pejabat pendidikan Tubas, penutupan tersebut mengganggu kegiatan belajar di enam sekolah dan satu taman kanak-kanak.
Sekitar 1.100 siswa terdampak akibat penutupan akses tersebut. Selain itu, pasukan Israel menutup pintu masuk utama Desa Al-Mughayyir, sebelah timur Ramallah. Kondisi ini turut menghambat siswa dan pekerja mencapai tujuan mereka.
Sementara itu, tahun ajaran baru 2026/2027 di Gaza telah mulai di tengah kondisi kemanusiaan dan pendidikan yang sangat pelik. Kementerian Pendidikan Palestina mencatat bahwa ribuan siswa dan guru masih terpaksa tinggal di tenda-tenda serta pusat pengungsian dengan keterbatasan fasilitas dan tekanan psikososial yang tinggi.
Meski terdapat berbagai keterbatasan, upaya pemulihan mulai berlangsung melalui pendirian sekolah lapangan dan ruang belajar alternatif. Kementerian Pendidikan menyebutkan bahwa sekitar 500.000 siswa telah kembali mengikuti proses belajar, dengan dukungan puluhan sekolah lapangan yang disiapkan seadanya.
Kendati demikian, dunia pendidikan di Gaza masih sangat membutuhkan dukungan masif. Oleh karena itu, kementerian mendesak agar UNRWA kembali membuka sekolah-sekolah mereka guna mengatasi krisis yang terjadi.
Kementerian juga menyerukan solusi berkelanjutan bagi keluarga pengungsi yang tinggal di gedung sekolah. Langkah tersebut diperlukan agar hak anak atas pendidikan Palestina tetap berjalan di tengah situasi yang belum stabil.








