Puluhan pemukim Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) pada Kamis (14/05) pagi. Mereka masuk dengan perlindungan pasukan Israel dan melakukan ritual Talmud di halaman masjid yang merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam.
Selama bertahun-tahun, Israel terus membuka akses bagi pemukim ke kawasan Al-Aqsa. Bahkan, polisi Israel mengizinkan aksi tersebut hampir setiap hari. Pada April lalu, pemukim Israel menyerbu Al-Aqsa sebanyak 30 kali. Warga Palestina menilai Israel terus berupaya mengubah identitas Arab dan Islam Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur).
Baca juga : “Pejabat Israel Dorong Serbuan ke Al-Aqsa”
Di sisi lain, Israel juga rutin menggelar “Jerusalem Day” atau Hari Yerusalem sejak 1968. Peringatan ini merayakan pendudukan wilayah Palestina di Al-Quds (Yerusalem) yang kemudian, pada 1998, parlemen Israel menetapkannya sebagai hari nasional.
Dalam pawai tersebut, ribuan pemukim dan nasionalis Israel memenuhi Kota Tua sambil membawa bendera Israel dan seringkali memicu kekerasan terhadap warga Palestina. Setiap tahun, peserta pawai meneriakkan slogan rasis dan menyerang warga Palestina, termasuk jurnalis dan aktivis yang mendokumentasikan aksi tersebut. Selain itu, sejumlah peserta pawai membawa slogan seperti “Gaza milik kami” dan “tanpa Nakba tidak ada kemenangan.”
Menteri ekstremis Israel, Itamar Ben-Gvir, juga rutin mengikuti pawai itu. Pada 2024, ia menyatakan bahwa Al-Quds (Yerusalem) dan kompleks Al-Aqsa adalah milik Israel. Akibatnya, warga Palestina semakin khawatir terhadap ancaman pendudukan dan upaya penghapusan identitas Palestina di Al-Quds (Yerusalem).








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)