Warga Gaza menghadapi Iduladha di tengah agresi, blokade, kelaparan, dan krisis ekonomi yang semakin parah. Harga kurban Gaza kini melonjak hingga rekor tertinggi.
Selama tiga tahun terakhir, agresi Israel telah menghancurkan sektor peternakan Gaza. Israel juga menutup perbatasan dan melarang masuknya hewan ternak. Selain itu, lahan penggembalaan menghilang dan pakan ternak semakin langka. Inilah yang menyebabkan harga kurban Gaza meningkat drastis menjelang Iduladha dan menyebabkan banyak keluarga Palestina tidak lagi mampu membeli hewan kurban.
Seorang peternak di Gaza utara, Abu Mohammed al-Zarqa, menggambarkan kondisi ini sebagai bencana besar. Ia mengatakan harga satu hewan kurban kini melebihi 5.000 dolar AS. Sementara itu, sebagian besar warga Gaza hidup dalam kemiskinan dan pengangguran ekstrem.
Baca juga : “Krisis Oksigen Ancam Gaza”
Harga daging segar melonjak tajam, mencapai USD 80 hingga 115 per kilogram. Saking mahalnya, daging hampir hilang dari meja makan warga Gaza.
Agresi genosida Israel tidak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur Gaza, tetapi juga sektor peternakan Gaza. Al-Zarqa kehilangan rumah, anggota keluarga, dan hampir 200 ekor domba akibat serangan Israel.
Di sisi lain, peternak kini memberi makan hewan dengan bantuan kemanusiaan seperti lentil dan biji-bijian. Kondisi itu menunjukkan besarnya krisis pangan di Gaza. Bahkan, membangun kandang sederhana pun membutuhkan biaya hingga USD 5.000 akibat mahalnya bahan bangunan.
Kini, banyak warga Gaza yang hanya dapat berharap pada lembaga amal agar tradisi kurban tetap berjalan. Mereka juga terus mendesak pembukaan perbatasan dan masuknya bantuan pangan serta ternak ke wilayah tersebut.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)