Rekonstruksi Gaza menghadapi tantangan besar karena layanan dasar di wilayah itu berada di ambang lumpuh. Pada saat yang sama, otoritas Palestina menyatakan rekonstruksi Gaza siap berjalan begitu kondisi memungkinkan.
Persatuan Munisipalitas Jalur Gaza memperingatkan krisis kemanusiaan, kesehatan, dan lingkungan yang semakin memburuk. Pembatasan Israel terhadap masuknya bahan bakar, oli industri, suku cadang, pompa, dan peralatan penting telah menghambat operasional layanan publik.
Hal ini terus melemahkan pasokan air, pengelolaan limbah, dan sistem sanitasi. Padahal, fasilitas air di Gaza seharusnya mampu memproduksi lebih dari 140 ribu meter kubik air setiap hari. Selain itu, sekitar 60 ribu meter kubik limbah harus dipompa setiap hari untuk mencegah banjir di kawasan permukiman.
Jika kondisi ini berlanjut, rekonstruksi Gaza akan semakin sulit. Pengumpulan lebih dari 3.000 meter kubik sampah per hari juga terancam terhenti. Karena itu, risiko penyebaran penyakit, serangga, dan tikus kemungkinan akan meningkat.
Di sisi lain, Komite Nasional Administrasi Gaza mengumumkan bahwa penyusunan rencana rekonstruksi Gaza telah selesai. Komite tersebut menetapkan prioritas pada sektor kesehatan, perumahan, infrastruktur, ekonomi, pertanian, telekomunikasi, dan perlindungan sosial.
Dalam pertemuan dengan Uni Eropa, PBB, dan Bank Dunia, komite menyatakan telah merampungkan peta kebutuhan dan rencana pelaksanaan. Mereka menegaskan rekonstruksi Gaza dapat segera dimulai setelah syarat operasional terpenuhi.
Namun, keberhasilan rekonstruksi Gaza sangat bergantung pada pemulihan layanan dasar. Tanpa pasokan bahan bakar, suku cadang, dan peralatan penting, lebih dari dua juta warga Gaza akan menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin parah.
Sumber: MEMO








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)