Anak-anak Gaza tidak lagi dapat menikmati liburan musim panas seperti sebelum agresi. Selama tiga tahun terakhir, anak-anak Gaza menghabiskan hari-hari mereka dengan mengantre air bersih dan makanan, serta mencari kayu bakar. Kondisi ini membuat anak Gaza kehilangan kesempatan bermain, belajar, dan beristirahat.
Faten Nabhan, ibu enam anak di Kota Gaza, mengatakan bahwa anak-anaknya kini membantu memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari. Setelah suaminya terbunuh dalam serangan udara pada 2024, mereka bergantian mengambil air dan membantu pekerjaan rumah.
Menurut Faten, tidak ada lagi kegiatan musim panas, tempat bermain, atau perlengkapan belajar. Ia hanya mampu mengajak anak-anak menghafal beberapa ayat Al-Qur’an. Selain itu, keluarga mereka tidak memiliki buku tulis, kertas, maupun alat gambar.
Baca juga: “Krisis Listrik di Gaza Kian Memburuk”
Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) sebelumnya melaporkan bahwa anak-anak di Gaza kehilangan lingkungan yang aman untuk tumbuh dan belajar. Gangguan pendidikan yang berkepanjangan juga berdampak pada perkembangan sosial dan psikologis mereka.
Di sisi lain, Asmaa Saleh berhasil mendaftarkan dua dari lima anaknya ke perkemahan musim panas yang diadakan lembaga amal. Kegiatan itu hanya berlangsung satu hari setiap pekan. Meski singkat, anak-anak Gaza yang mengikuti program tersebut terlihat lebih ceria dan bersemangat dibanding hari-hari lainnya.
Asmaa juga mengajak anak-anaknya menggambar menggunakan krayon dan kertas yang ia terima dari sebuah organisasi amal. Menurutnya, satu jam bermain dan menggambar mampu memberikan perubahan positif bagi kondisi psikologis mereka.
Hingga kini, anak-anak Gaza masih kehilangan hak untuk bermain dan belajar secara layak. Di tengah agresi genosida dan pengungsian, keluarga Gaza terus berupaya menciptakan kebahagiaan sederhana bagi anak-anak mereka.
Sumber: Al Jazeera







