Krisis listrik di Gaza semakin memperburuk kehidupan warga di tengah musim panas. Selain menghadapi dampak perang, masyarakat kini harus bertahan tanpa pasokan listrik yang memadai. Hal ini mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengancam keselamatan warga.
Banyak keluarga berusaha menggunakan generator atau panel surya sebagai alternatif. Namun, biaya yang tinggi membuat sebagian besar warga tidak mampu mengaksesnya. Seorang pengungsi di Kota Gaza mengaku biaya listrik dari generator pribadi mencapai sekitar 35 shekel per kilowatt-jam. Karena itu, warga harus mengatur penggunaan listrik secara ketat, bahkan hanya untuk mengisi daya telepon genggam atau menyalakan kipas.
Di sisi lain, krisis listrik Gaza membuat tenda pengungsian berubah menjadi sangat panas pada siang hari. Seorang warga di Al-Mawasi, Khan Younis, mengatakan suhu di dalam tenda terasa seperti tungku. Sementara itu, jaringan generator tidak tersedia sehingga banyak keluarga hanya dapat mengandalkan panel surya yang harganya sulit dijangkau.
Baca juga: “Israel Serang Titik Air di Gaza, 2 Warga Terbunuh Ditembak Drone”
Selain berdampak pada tempat tinggal, krisis listrik Gaza juga mengancam mata pencaharian warga. Seorang tukang cukur mengaku kesulitan mengisi daya alat cukurnya. Bahkan, harga alat cukur bertenaga baterai meningkat tajam sejak perang dimulai.
Saat malam tiba, kamp-kamp pengungsian tenggelam dalam kegelapan. Warga hanya mengandalkan senter telepon genggam untuk berjalan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi anak-anak dan lansia, terutama saat menuju fasilitas umum.
Hingga kini, krisis listrik di Gaza masih membebani jutaan warga. Ketiadaan listrik membuat kebutuhan sederhana, seperti penerangan, pendingin udara, dan pengisian daya perangkat, menjadi tantangan besar di tengah krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.
Sumber: Palinfo








