Listrik Gaza semakin memburuk dan memperparah krisis kemanusiaan. Listrik Gaza kini menjadi kebutuhan yang sulit dipenuhi. Akibatnya, Listrik Gaza memengaruhi kehidupan, pekerjaan, dan keselamatan warga. Selain itu, Listrik Gaza membuat ribuan keluarga menghadapi panas ekstrem dan kegelapan. Karena itu, Listrik Gaza menjadi simbol memburuknya kondisi di Jalur Gaza.
Banyak keluarga tidak lagi mampu membeli listrik dari generator swasta. Harga listrik mencapai sekitar 35 shekel per kilowatt-jam. Sementara itu, pemasangan panel surya juga terlalu mahal bagi sebagian besar warga yang kehilangan mata pencaharian.
Di kawasan Al-Mawasi, tenda-tenda berubah menjadi seperti tungku saat siang hari. Warga terus mencari tempat yang lebih teduh. Namun, mereka tetap kesulitan memperoleh pendingin karena tidak tersedia jaringan generator.
Baca juga: “Tala Awad, Siswi Gaza Raih Emas Olimpiade Matematika Brasil”
Krisis ini juga mengancam pekerjaan masyarakat. Seorang tukang cukur mengaku hanya mengandalkan alat cukur bertenaga baterai. Kini, harga alat tersebut melonjak dari sekitar 100 shekel menjadi hampir 3.000 shekel. Jika baterainya habis, ia kehilangan satu-satunya sumber penghasilan.
Selain itu, kamp-kamp pengungsian tenggelam dalam kegelapan setiap malam. Warga hanya mengandalkan senter ponsel untuk berjalan. Setelah baterai habis, mereka kesulitan bergerak, terutama saat mendampingi anak-anak atau lansia.
Di tengah panas menyengat dan malam tanpa penerangan, warga Gaza terus berjuang menjalani kehidupan. Bahkan, mengisi daya ponsel atau menyalakan kipas kini menjadi tantangan besar di tengah perang yang belum berakhir.
Sumber: Palinfo








