Sebuah klinik di Gaza kembali dievakuasi setelah tembakan Israel melukai seorang perempuan dan anaknya. Ini menjadi fasilitas kesehatan kedua yang dievakuasi dalam waktu kurang dari sepekan.
Penembakan terjadi di kawasan Abu Madeen, antara Al-Bureij dan Al-Maghazi, Deir al-Balah. Fasilitas kesehatan yang menjadi sasaran itu merupakan klinik yang dikelola oleh Culture and Free Thought Association dengan dukungan penuh dari organisasi kemanusiaan Medical Aid for Palestinians (MAP).
Saat insiden penembakan terjadi, ada sekitar 40 pasien di dalam klinik untuk mendapatkan perawatan. Proyektil peluru menghantam bangunan klinik dan memecahkan tangki air yang berada di bagian atap. Menghadapi situasi yang mengancam nyawa tersebut, pihak pengelola langsung mengambil keputusan darurat. Mereka segera mengevakuasi seluruh pasien dan tenaga medis demi keselamatan bersama.
Baca juga: Perjuangan Anak Down Syndrome di Tengah Tenda Darurat Gaza
Setiap harinya, klinik tersebut melayani sekitar 250 warga yang mengungsi dari wilayah sekitar. Sementara tenaga kesehatan di sana berjibaku menangani berbagai keluhan medis, termasuk penyakit-penyakit yang timbul akibat buruknya kondisi sanitasi di tempat pengungsian seperti infeksi kulit.
Mohammed Al Hour, pekerja kesehatan komunitas MAP, mengatakan bahwa suara tembakan terdengar sejak tengah malam. Ia juga menyebut beberapa peluru mencapai sekitar klinik saat aktivitas medis masih berlangsung.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pasien dan tenaga kesehatan panik. Mereka kemudian memutuskan menutup klinik untuk sementara demi keselamatan.
Kurang dari sepekan sebelumnya, tembakan dari drone militer Israel membunuh pasien berusia 65 tahun di fasilitas kesehatan MAP di Jabalia, Gaza utara. Di sisi lain, tekanan terhadap sektor medis juga memaksa Rumah Sakit Kamal Adwan menghentikan operasional dan mengevakuasi stafnya setelah kendaraan tempur militer Israel mendekati kawasan rumah sakit.
Fikr Syaltut, Direktur MAP untuk Gaza, mengatakan fasilitas kesehatan terus menghadapi serangan dan kekurangan obat. Ia juga menyoroti kerusakan rumah sakit serta terbatasnya pasokan medis.
Sementara itu, pemutakhiran data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah merenggut nyawa 1.386 warga Palestina dan melukai 4.784 lainnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan di Gaza tetap menghadapi ancaman serius, sementara kebutuhan medis warga terus meningkat.
Sumber: MEMO








