Israel menghentikan seluruh perjalanan pasien asal Jalur Gaza yang hendak keluar negeri untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan. Penutupan jalur evakuasi ini telah berlangsung selama dua hari berturut-turut seiring dengan perayaan hari raya Yahudi.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan tidak ada pasien atau korban luka yang dievakuasi melalui Rafah dan Karim Abu Salim pada Senin (21/9). Penutupan tersebut juga terjadi pada Minggu karena hari raya Yahudi.
Sebelum penutupan total ini, Israel bahkan secara sepihak memangkas kuota keberangkatan pasien, korban luka, dan pendamping menuju Mesir. Kuota dari yang mulanya terjadwal sebanyak 136 orang, berkurang menjadi hanya 61 orang saja.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut kebijakan tersebut melanggar hak pasien untuk memperoleh pengobatan. Kementerian juga memperingatkan ratusan pasien berisiko meninggal karena terlambat mencapai rumah sakit rujukan khusus di luar Gaza.
Sebagai respons atas situasi tersebut, kementerian meminta WHO, PBB, dan organisasi kemanusiaan lainnya untuk segera menekan otoritas Israel. Mereka menuntut agar Israel mengakhiri persyaratan dan pembatasan yang sewenang-wenang.
Pada akhir Agustus lalu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan bahwa sebanyak 20.719 pasien dan korban luka masih masuk dalam daftar tunggu evakuasi medis.
Sementara itu, sejak Oktober 2023, sebanyak 13.237 pasien, termasuk 6.276 anak, telah dievakuasi dari Gaza. Proses tersebut juga melibatkan 16.406 pendamping.
Meskipun perlintasan Rafah sempat buka kembali secara terbatas sejak 2 Februari lalu menyusul akses melalui perlintasan Karim Abu Salim, berbagai pembatasan ketat terus berlaku terhadap mobilitas pasien.
Di tengah lumpuhnya infrastruktur lokal akibat hantaman 445 serangan yang merusak 155 fasilitas kesehatan sejak awal agresi, penghentian akses keluar wilayah ini semakin mempersempit peluang hidup pasien Gaza yang membutuhkan penanganan medis spesifik.








