Ribuan anak-anak di Jalur Gaza kini harus menjalani hari-hari mereka tanpa kehadiran keluarga setelah serangan militer Israel merenggut nyawa orang-orang yang paling mereka cintai. Mereka menghadapi duka, trauma, dan tanggung jawab orang dewasa tanpa dukungan yang memadai.
Kisah tragis tersebut dialami oleh Jana al-Motouq (13). Dalam serangan mematikan pada 17 November 2023, Jana kehilangan kedua orang tua serta ketiga saudaranya, bersamaan dengan 35 anggota keluarga besarnya yang turut terbunuh dalam insiden yang sama.
Jana selamat karena malam itu ia tidur di rumah neneknya. Setelah ledakan, ia berlari menuju rumah dan hanya menemukan reruntuhan. Selama berhari-hari, Jana mencari jejak keluarganya di antara puing-puing.
Kehilangan masif ini sering kali memicu beban mental yang kompleks. Jana mengaku sempat diliputi rasa bersalah yang mendalam, bahkan berharap ikut meninggal bersama keluarganya. Menurut psikolog Sereen al-Absi, perasaan bersalah semacam ini merupakan respons trauma yang kerap anak-anak penyintas genosida di Gaza alami.
Baca juga: Israel Akui Bunuh Hind Rajab Setelah Dua Tahun
Situasi serupa Dima Junina (18) alami. Serangan udara pada Oktober 2023 membunuh kedua orang tua serta tiga adiknya, sementara Dima berhasil selamat setelah sebilah pintu melindungi tubuhnya dari bangunan yang runtuh.
Kini, anak penyintas genosida Gaza harus mengambil alih peran orang tua. Mereka memasak, mencuci, belajar, dan mengurus kehidupan sendiri. Bahkan, sebagian anak harus menghadapi trauma kompleks akibat kehilangan banyak anggota keluarga sekaligus.
Menurut Kementerian Pembangunan Sosial Gaza, agresi genosida telah meninggalkan lebih dari 68.000 penyintas tunggal. Selain itu, lebih dari 75.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua.
Kendati dikelilingi oleh kehancuran dan duka, para anak penyintas ini tetap merajut asa. Jana bertekad untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an, sementara Dima memiliki impian untuk bisa melanjutkan kuliah dan membangun sebuah sumur sebagai bentuk amal jariyah untuk keluarganya yang telah tiada.
Di balik penderitaan yang luar biasa, impian mereka tergolong sangat sederhana: kembali merasakan kehangatan rumah, mengenyam pendidikan di sekolah, mendapatkan rasa aman, dan memiliki kesempatan untuk bermimpi selayaknya anak-anak pada umumnya.
Sumber: MEE








