Tepat 57 tahun setelah insiden kebakaran bersejarah, Gubernur Al-Quds (Yerusalem) mengeluarkan peringatan keras mengenai upaya sistematis Israel untuk mengubah status quo di kompleks Masjid Al-Aqsa. Peringatan ini disampaikan di tengah eskalasi pembatasan ketat terhadap jamaah Muslim serta peningkatan aksi serbuan oleh kelompok pemukim Israel.
Dalam pernyataan pada Jumat (21/08), Gubernur Al-Quds menyebut pembakaran Al-Aqsa pada 1969 bukan sekadar insiden terisolasi. Sebaliknya, tragedi tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya berkelanjutan yang bertujuan mengikis identitas keagamaan dan budaya Al-Quds.
Gubernur juga menyoroti serbuan pemukim Israel ke kompleks Masjid Al-Aqsa serta pembatasan polisi terhadap akses jemaah Muslim. Praktik tersebut mengancam status keagamaan dan hukum situs suci itu.
Baca juga: Gaza Gelar Pemakaman Massal 50 Warga Palestina
Kompleks Masjid Al-Aqsa mencakup area seluas 14,4 hektar dan merupakan tempat ibadah khusus bagi umat Islam. Sementara itu, wilayah Al-Quds bagian timur tetap berstatus sebagai teritori Palestina yang berada di bawah pendudukan.
Kebakaran besar yang melanda Masjid Al-Aqsa terjadi pada 21 Agustus 1969 dan menghanguskan sekitar 1.500 meter persegi area bagian selatan masjid. Kobaran api tersebut menghancurkan benda-benda berharga, termasuk mimbar kayu berusia sekitar 900 tahun yang merupakan hadiah dari pemimpin Muslim legendaris, Salahuddin Al-Ayyubi.
Panel mosaik dinding dan langit-langit juga mengalami kerusakan parah. Banyak bagian Masjid Al-Aqsa menghitam akibat kobaran api.
Pada masa itu, otoritas Israel sempat berdalih bahwa insiden dipicu oleh korsleting listrik. Namun, hasil investigasi mandiri dari perusahaan listrik Al-Quds membuktikan bahwa tidak terdapat kerusakan pada jaringan listrik di lokasi.
Syekh Hilmi Al-Muhtaseb, yang saat itu memimpin Dewan Islam Tertinggi Al-Quds, menyatakan kebakaran tersebut disengaja. Ia juga menyatakan bahwa otoritas Israel memutus pasokan air untuk memadamkan api di kompleks Al-Aqsa.
Sementara itu, Syeh Ekrima Sabri menyerukan peringatan tahunan atas tragedi tersebut. Menurutnya, momentum ini penting untuk mengenalkan sejarah Masjid Al-Aqsa kepada generasi muda.
Syekh Sabri mengatakan peringatan tersebut juga menjadi kesempatan menegaskan hak umat Islam atas Al-Aqsa. Ia mengajak warga Palestina terus menjaga situs suci tersebut dari berbagai ancaman.
Peringatan 57 tahun pembakaran Al-Aqsa ini sekali lagi menjadi alarm keras bagi dunia Islam untuk menghentikan ancaman perubahan status quo di salah satu situs paling sakral bagi umat Muslim di dunia.
Sumber: Palinfo








