Pasukan Israel membunuh tiga warga Palestina di Gaza dan menembak mati seorang anak berusia 14 tahun di Nablus. Serangan Israel terus berlangsung meski gencatan senjata masih berlaku.
Anak Palestina tersebut tertembak di bagian dada saat pasukan Israel menyerbu Kamp Pengungsi Askar, sebelah timur Nablus, pada Ahad.
Di Gaza tengah, dua warga Palestina terbunuh dan tujuh lainnya terluka dalam serangan terhadap Kamp Pengungsi Nuseirat dan Az-Zawayda. Serangan udara lain di Jalan Salah Al-Din membunuh satu orang dan melukai dua lainnya.
Rentetan serangan ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat sejak diberlakukan pada Oktober 2025 lalu. Operasi militer dan serangan udara yang terus berlanjut telah mencatatkan angka korban yang masif.
Pejabat kesehatan di Gaza mencatat bahwa lebih dari 1.280 warga Palestina telah terbunuh sejak gencatan senjata tersebut dideklarasikan. Secara keseluruhan, sejak eskalasi besar-besaran yang dimulai pada Oktober 2023, serangan Israel ke Gaza telah membunuh sedikitnya 73.419 warga dan melukai 174.364 lainnya.
Baca juga: Gaza Gelar Pemakaman Massal 50 Warga Palestina
Kekerasan juga meningkat di Tepi Barat. Di Tulkarm, pasukan Israel menyerbu pusat kota dan menembakkan peluru tajam serta granat kejut ke arah warga.
Pasukan Israel juga menangkap lima warga Palestina setelah menggerebek sejumlah rumah di Zeita dan Seida.
Di Tubas, tim Bulan Sabit Merah Palestina merawat 11 orang, termasuk empat anak, akibat menghirup gas air mata. Di Tammun, pemukim Israel juga menyerang seorang anak Palestina berusia 15 tahun.
Sementara itu, pasukan Israel menutup satu-satunya pintu masuk yang tersisa menuju Desa Al-Mughayyir. Warga tidak dapat keluar atau masuk, sementara tentara menembakkan gas air mata ke kendaraan.
Di wilayah Nablus, pasukan Israel menangkap seorang warga Palestina dan menyita dua kendaraan. Pemukim Israel juga mencabut tanaman zaitun dan anggur milik warga di Al-Maniya.
Di Qusra, pengepungan terhadap tiga rumah memasuki hari ke-15. Pemukim menghalangi akses warga, sehingga keluarga yang terkepung mulai kekurangan air.
Sumber: MEE








