Wilayah Garis Kuning di Gaza kini kembali meluas ke sisi timur Jalur Gaza. Hal ini memicu kekhawatiran serius di kalangan organisasi hak asasi manusia. Pusat Hak Asasi Manusia Gaza menilai bahwa perluasan garis pembatas sepihak ini merupakan langkah strategis Israel untuk memperkuat kendali militer sekaligus memaksa perpindahan penduduk di wilayah tersebut. Praktik ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk mengubah kondisi demografis dan tata ruang secara paksa di tengah konflik yang masih berlangsung.
Bukti di lapangan menunjukkan peningkatan aktivitas militer yang intensif, di mana tentara Israel terpantau memindahkan blok beton penanda di kawasan Shuja’iya hingga mencapai area Souq Al-Bastat. Sementara itu, di wilayah Al-Mawasi, Rafah, operasi militer melibatkan pengerahan buldoser dan tank untuk meratakan lahan pertanian produktif warga. Selain kerusakan infrastruktur, laporan juga mencatat adanya tembakan berkala yang Israel arahkan ke kawasan tenda pengungsian, menambah ancaman keamanan bagi warga sipil yang terjebak dalam krisis kemanusiaan ini.
Baca juga: “6 Warga Gaza Terbunuh dalam Serangan Israel Terbaru, Termasuk Seorang Anak”
Organisasi tersebut menilai tindakan itu bertujuan mendorong warga meninggalkan wilayah tersebut. Pada saat yang sama, Dewan Perdamaian (BoP) mengumumkan rencana pembangunan pusat penampungan kemanusiaan di Rafah. Menurut organisasi itu, proyek tersebut berpotensi membatasi perpindahan warga dan mengubah komposisi penduduk Gaza.
Selain itu, organisasi tersebut mengecam serangan Israel terhadap peralatan pengeboran sumur di Kota Gaza. Empat warga Palestina terbunuh dan beberapa lainnya terluka.
Serangan terhadap infrastruktur air mengakibatkan merosotnya produksi air, yakni hanya sekitar setengah dari kapasitas sebelum agresi. Banyak pengungsi hanya memperoleh kurang dari lima liter air setiap hari. Organisasi itu mendesak komunitas internasional menghentikan perluasan zona militer, melindungi infrastruktur sipil, serta menolak proyek yang berpotensi memicu perpindahan paksa penduduk Gaza.
Sumber: Palinfo








