• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Juli 21, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Gegap Gempita Piala Dunia 2026 yang Menyilaukan Mata Dunia dari Kondisi Rakyat Palestina

by Adara Relief International
Juni 29, 2026
in Artikel, Sorotan, Tema Populer
Reading Time: 8 mins read
0 0
0
Gegap Gempita Piala Dunia 2026 yang Menyilaukan Mata Dunia dari Kondisi Rakyat Palestina

Anak-anak Palestina bermain sepak bola di depan reruntuhan gedung di Gaza (Reuters)

67
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Empat tahun lalu, warga Palestina di Jalur Gaza menyambut Piala Dunia yang diselenggarakan di Qatar dengan sukacita. Saat itu, menonton sepak bola menjadi momen bagi keluarga, teman, serta kerabat untuk berkumpul. Semua orang di Gaza masih memiliki rumah, anggota keluarga yang masih lengkap, juga fasilitas-fasilitas umum seperti kafe dan lapangan untuk menonton Piala Dunia bersama.

Empat tahun lalu, meski kondisi Gaza sudah mengalami kesulitan, namun penduduknya masih bisa menemukan cara untuk menikmati hidup. Kondisinya sangat berbeda dengan tahun ini, ketika genosida yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun telah merenggut segalanya. Semua orang di Gaza kini telah kehilangan rumah mereka akibat pengeboman dan pengungsian. Setiap keluarga juga telah kehilangan orang-orang tercinta mereka. Bahkan, banyak keluarga terhapus sepenuhnya dari catatan sipil karena tak ada lagi anggota keluarga yang tersisa. Kafe-kafe yang dulunya ramai telah hancur, sedangkan lapangan telah berubah menjadi lautan tenda-tenda pengungsian. Kini, yang tersisa di Gaza hanyalah kehancuran, kehilangan, dan penderitaan.

Baca juga: “Ujian Tawjihi Gaza 2026: 35.000 Siswa Palestina Berjuang di Tengah Kelaparan dan Pengungsian”

Pada momen ketika seluruh dunia antusias menonton dan membahas Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, penduduk Gaza justru kehilangan gairah. Krisis makanan, air bersih, dan obat-obatan telah membuat semua orang tidak memiliki waktu untuk memikirkan pertandingan yang berlangsung. Meski beberapa orang masih memiliki minat untuk mendukung tim favorit mereka, namun pemadaman listrik dan koneksi internet yang tidak stabil telah memudarkan semangat tersebut. 

Hari ini, di tengah gegap gempita dunia yang merayakan Piala Dunia 2026, penderitaan rakyat Gaza teralihkan oleh berita-berita sepak bola dan jadwal pertandingan terkini. Di antara euforia pendukung sepak bola, penduduk Gaza hanya bisa membayangkan, apabila Gaza dan Palestina mendapatkan sorotan dunia sebagaimana Piala Dunia saat ini, akankah mereka mendapat banyak dukungan sehingga penjajahan berakhir selamanya?

Pemadaman Listrik dan Internet Memadamkan Semangat Piala Dunia di Gaza

Penduduk Gaza menonton pertandingan di tengah kegelapan (Reuters)

Sameeh Totah (43) menatap layar ponselnya di luar tenda daruratnya di Stadion Yarmouk. Ia menonton siaran ulang pertandingan Piala Dunia yang berlangsung malam sebelumnya. Meski ia antusias untuk menyaksikan pertandingan secara real time, namun pemadaman listrik dan internet yang terus menerus di Gaza membuatnya tidak memiliki pilihan lain.

Ia mengingat momen empat tahun lalu, ketika Piala Dunia 2022 diselenggarakan di Qatar. Saat itu, ia masih memiliki rumah di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza. Menurutnya, momen Piala Dunia kala itu menjadi waktu untuk berkumpul dan menonton bersama. Meski kondisi Gaza saat itu sudah sulit, namun ia mengaku bahwa Piala Dunia masih bisa menjadi pelarian bagi penduduk Gaza untuk melupakan sejenak kondisi mereka.

Namun pada saat ini, pemadaman listrik yang terus terjadi di Gaza, menyebabkan listrik–termasuk yang berasal dari sumber energi alternatif–menjadi sangat sulit. Selain itu harganya pun tidak terjangkau bagi sebagian besar penduduk, karena telah meningkat sepuluh kali lipat menjadi sekitar 300 shekel ($95) selama genosida.

Baca juga: “Sidang DK PBB: Israel Catat Pelanggaran Anak Tertinggi di Dunia”

Adapun sistem energi surya, harganya bahkan lebih mahal, yakni mencapai $420 per panel, serta dengan biaya tambahan baterai – sekitar $1.200 – dan inverter. Semua barang ini juga langka karena pembatasan ketat Israel terhadap masuknya barang-barang tersebut ke Jalur Gaza sejak awal genosida. Karena pilihan-pilihan alternatif tersebut membutuhkan biaya, warga Gaza yang terjebak dalam krisis ekonomi seringkali tidak mampu membeli fasilitas tersebut, membuat mereka terpaksa bertahan tanpa aliran listrik dan internet.

Kembali ke masa kini, Sameeh menyaksikan dirinya telah kehilangan rumahnya di lingkungan Zeitoun. Genosida telah membuat lingkungan rumahnya sebagai zona pengungsian paksa yang Israel tetapkan. Saat ini, ia tinggal di sebuah tenda di sekitar Stadion Yarmouk di Kota Gaza.

Bagi Sameeh, genosida tidak hanya mempersulit aktivitas menonton pertandingan, tetapi juga menghilangkan sebagian besar kegembiraan yang dulu menyertai turnamen tersebut. “Sangat sulit untuk mengikuti pertandingan seperti dulu,” katanya. “Terkadang saya menonton cuplikan setelah mengetahui hasilnya. Begitu Anda tahu skornya, kegembiraan dan antusiasme itu hilang.”

Penduduk Gaza menyaksikan pertandingan di kamp pengungsian Gaza (Al Jazeera)

Yousef al-Nuaizi (21) juga kurang lebih merasakan hal yang sama. Pemuda Gaza ini merupakan pendukung tim nasional Portugal, dan Piala Dunia masih menjadi momen yang istimewa baginya. Namun, seperti Sameeh, ia mengakui bahwa menonton Piala Dunia dengan kondisi Gaza seperti saat ini lebih banyak membuatnya lelah dibanding bahagia. 

Piala Dunia tahun ini, ia pergi bersama teman-temannya untuk mencari tempat yang menayangkan pertandingan. “Kami berjalan cukup jauh ke sebuah kafe untuk menonton pertandingan,” katanya. “Kami tiba sekitar subuh, tetapi ketika kami sampai di sana, kafe itu sudah tutup karena tidak ada listrik.” Meskipun mereka menemukan tempat untuk menonton pertandingan, mereka hanya mampu bertahan selama 40 menit sebelum kelelahan mengalahkan mereka. 

Ia melanjutkan bahwa ia sangat merindukan momen Piala Dunia Qatar 2022, ketika Piala Dunia penuh dengan perayaan, bukan tantangan. “Kami punya layar besar, bendera nasional, kopi, teh, camilan, dan permen,” kenangnya. “Kami akan berkumpul bersama, menonton pertandingan, dan menikmati suasananya.” 

Baca juga: “Krisis Insulin Ancam Nyawa Pasien Diabetes Gaza”

Ironisnya, Stadion Yarmouk, tempat Yousef sekarang tinggal sebagai pengungsi setelah dipaksa meninggalkan rumahnya di lingkungan Shujayea, dulunya merupakan bagian dari kenangan indah itu. Akibat genosida, banyak fasilitas olahraga dan stadion di seluruh Jalur Gaza telah beralih fungsi menjadi tempat penampungan bagi keluarga pengungsi.

Menurut laporan Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), 265 fasilitas olahraga telah rusak atau hancur total akibat serangan Israel, termasuk lapangan sepak bola, pusat kebugaran, gedung klub, kolam renang, dan infrastruktur olahraga lainnya. Banyak stadion utama di Gaza terkena dampak serangan, sementara beberapa fasilitas telah diubah menjadi tempat penampungan bagi keluarga pengungsi. 

“Sejujurnya, saya sudah tidak terlalu antusias lagi dengan pertandingan-pertandingan itu,” kata Yousef. “Saya kebanyakan menontonnya hanya untuk mengisi waktu. Gairah yang sesungguhnya telah hilang. Hampir semua gairah di Gaza telah lenyap setelah semua yang telah kami saksikan.”

Di Tengah Kehilangan, Warga Gaza Menemukan Cara untuk Bangkit dan Bertahan

Ali Tafesh, pemain sepak bola yang kehilangan kakinya akibat serangan Israel (Al Jazeera)

Empat tahun lalu, Ali Tafesh (24) menonton Piala Dunia Qatar 2022 bersama teman-temannya di sebuah kafe di Gaza. Ia masih mengingat suasana meriah saat itu, sangat berbeda dengan kondisi yang sekarang ia alami. Saat ini, di tengah genosida Gaza yang masih berlangsung, Ali berada di antara ribuan penyintas genosida yang telah kehilangan anggota tubuh, termasuk para atlet.

Pada Februari 2024, beberapa bulan setelah genosida Israel dimulai, rumah keluarga Ali di lingkungan Zeitoun di timur Kota Gaza dihantam. Serangan Israel itu merenggut nyawa ibu dan saudara laki-lakinya, sementara dokter terpaksa mengamputasi salah satu kaki Ali. “Setelah kaki saya diamputasi, saya kehilangan harapan dalam hidup,” ia mengatakan.

Namun, dalam kondisi itulah ia menemukan Gaza al-Irada. Gaza Al-Irada didirikan pada Mei 2018 sebagai tim sepak bola amputasi untuk memberi kesempatan kepada orang-orang yang kehilangan anggota tubuh untuk kembali berolahraga dan berpartisipasi dalam kompetisi lokal dan internasional. Tim tersebut mencakup pemain yang cedera dalam serangan beruntun di Gaza, bersama dengan pemain lain yang kehilangan anggota tubuh dalam berbagai keadaan.

Baca juga: “Israel Sita 46.5 Hektar Lahan Palestina untuk Permukiman Ilegal”

Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa antara 5.000 hingga 6.000 warga Palestina di Gaza telah kehilangan anggota tubuhnya sejak genosida Israel dimulai pada Oktober 2023. Ribuan lainnya telah kehilangan anggota tubuh dalam serangan-serangan Israel sebelumnya. Namun sejatinya apa yang mereka rasakan bukan hanya sekedar kehilangan anggota tubuh, tetapi juga kehilangan diri sendiri, 

Setelah bergabung dengan Gaza al-Irada, Ali menemukan semangatnya kembali saat menyaksikan banyak atlet yang memiliki kondisi yang sama dengannya. Dengan menggunakan tongkatnya, Ali kembali ke Stadion Palestina di Kota Gaza. Meskipun serangan Israel telah mengubah stadion itu menjadi reruntuhan, bagi Ali dan rekan-rekan timnya, stadion tersebut adalah satu-satunya fasilitas olahraga yang masih dapat digunakan setelah banyak stadion hancur akibat serangan pasukan Israel. 

Baca Juga

Karakter Para Pejuang Hijrah

Hari Pengungsi Sedunia dan Penderitaan Pengungsi Palestina yang Tenggelam dalam Gejolak Timur Tengah

Selain hancurnya sebagian besar fasilitas olahraga, genosida yang sedang berlangsung telah memberikan pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi olahraga Palestina di Gaza. Menurut laporan Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) pada bulan Maret 2026, 1.007 anggota komunitas olahraga di Gaza telah dibunuh oleh Israel sejak Oktober 2023, termasuk pemain, pelatih, wasit, administrator, dan pekerja dalam bidang olahraga.

Baca juga: “Biaya Perang Israel sejak 7 Oktober Capai Rp205 Miliar Dolar”

Hatem al-Mughrebi, pelatih Gaza Al-Irada, mengatakan bahwa ia melihat Piala Dunia tahun ini sebagai perayaan sepak bola global sekaligus pengingat yang menyakitkan tentang isolasi yang dialami oleh para atlet Gaza. “Realitas perang dan pengepungan telah memberikan dampak yang menghancurkan pada kondisi psikologis pemain, terutama mereka yang berada di Gaza Al-Irada, yang telah kehilangan kaki atau lengan.” “Mereka ingin merasakan turnamen seperti atlet lain di seluruh dunia, tetapi hari ini kami tidak memiliki layar, tidak ada acara, sementara pengeboman dan korban jiwa terus berlanjut setiap hari.”

Hatem mengenang Piala Dunia terakhir di Qatar, ketika delegasi olahraga dari Gaza dapat menghadiri pertandingan dan merasakan atmosfernya secara langsung. Hari ini, katanya, Gaza sama sekali tidak hadir. “Ini adalah pukulan yang menyakitkan dari komunitas internasional kepada Gaza dan para atletnya,” katanya. “Kita perlu memecah keheningan dan memberikan hak kepada atlet Palestina untuk eksis dan berpartisipasi.” “Yang kita butuhkan adalah dukungan nyata, seperti membangun kembali stadion dan fasilitas olahraga serta memberi para pemain ini kesempatan untuk melanjutkan karier mereka.”

Euforia Piala Dunia Akan Berlalu, Namun Genosida Masih Terus Berlangsung

Anak-anak Palestina bermain sepak bola di depan reruntuhan gedung di Gaza (Reuters)

Pada momen Piala Dunia tahun ini, dunia olahraga internasional terkesan masih memarjinalkan Palestina dari pertandingan. Pada tahun ini, Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, termasuk di antara beberapa orang yang terakreditasi untuk menghadiri Piala Dunia, namun visanya ditolak atau belum diterima dari Amerika Serikat. Rajoub mengatakan bahwa dia juga gagal mendapatkan visa untuk Kanada, yang merupakan negara tuan rumah bersama Piala Dunia. Departemen Luar Negeri AS tidak memberikan komentar langsung mengenai visa Rajoub. Akan tetapi, tahun lalu mereka menerapkan pembatasan baru terhadap pemegang paspor Palestina.

Kampanye Palestina untuk Boikot Akademik dan Budaya terhadap Israel (PACBI) juga mengkritik kebungkaman badan pengatur sepak bola internasional, FIFA, atas pembunuhan atlet Palestina dan penargetan fasilitas olahraga selama genosida di Gaza. PACBI menyatakan bahwa sebanyak 1.007 atlet Palestina telah terbunuh, termasuk 566 pemain sepak bola — setara dengan 25 tim penuh. Mereka juga melaporkan penghancuran 265 fasilitas olahraga. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan bahwa antara 5.000 hingga 6.000 warga Palestina di Gaza telah kehilangan anggota tubuhnya, termasuk para atlet.

Di tengah genosida, kehancuran, dan penjajahan yang setiap harinya terjadi di Gaza dan Palestina, Piala Dunia 2026 telah mencuri seluruh perhatian yang seharusnya penduduk Palestina dapatkan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa olahraga tetap tidak akan bisa terpisahkan dari politik. Tanpa adanya atmosfer politik yang sehat, nyaris mustahil untuk mewujudkan pertandingan olahraga yang adil bagi semua pihak yang berpartisipasi.

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.

 

Sumber: 

https://www.middleeastmonitor.com/20260615-fifa-reportedly-proposes-israel-palestine-match-to-open-youth-football-festival/

https://www.newarab.com/news/gaza-watches-2026-world-cup-despite-israels-genocide 

https://www.middleeastmonitor.com/20260612-fifa-under-fire-for-silence-on-targeting-of-palestinian-athletes/

https://www.theguardian.com/football/2026/jun/15/fifa-plans-israel-v-palestine-fixture-opening-game-new-under-15s-tournament

https://www.aljazeera.com/features/2026/6/23/gaza-world-cup-football-offers-escape 

https://www.aljazeera.com/features/2026/6/22/football-war-and-solidarity-why-gaza-fans-turned-to-spain-this-world-cup 

https://www.aljazeera.com/features/longform/2026/6/11/world-celebrates-but-gaza-watches-the-world-cup-from-a-distance 

https://www.aljazeera.com/features/2026/3/29/living-in-the-dark-gazas-struggle-for-electricity 

https://www.jpost.com/diaspora/antisemitism/article-899752

https://www.timesofisrael.com/head-of-palestinian-soccer-says-us-hasnt-granted-him-visa-to-attend-world-cup/ 

https://www.reuters.com/sports/gazans-displaced-by-war-watch-world-cup-ruins-2026-06-16/

ShareTweetSendShare
Previous Post

Global Sumud Flotilla 2026: Kapal Handala II dari Swedia Bersiap Tembus Bantuan ke Gaza

Next Post

241 Anak Palestina Terbunuh di Tepi Barat, B’Tselem: Tertinggi Sejak Pendudukan 1967

Adara Relief International

Related Posts

Karakter Para Pejuang Hijrah
Artikel

Karakter Para Pejuang Hijrah

by Adara Relief International
Juli 15, 2026
0
20

Hijrah tidak pernah lahir dari jalan yang mudah. Di balik setiap langkah meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan kenyamanan hidup,...

Read moreDetails
Tenda-tenda pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon (Arab News)

Hari Pengungsi Sedunia dan Penderitaan Pengungsi Palestina yang Tenggelam dalam Gejolak Timur Tengah

Juni 19, 2026
64
Keutamaan Dzuhijjah Sebagai Bulan Haram

Keutamaan Dzuhijjah Sebagai Bulan Haram

Mei 21, 2026
49
The Great Palestinian Revolt (1936 – 1939): Upaya Inggris dan Zionis untuk Mencegah Kemerdekaan Palestina

The Great Palestinian Revolt (1936 – 1939): Upaya Inggris dan Zionis untuk Mencegah Kemerdekaan Palestina

Mei 18, 2026
61
kurban

Berkurban Sebagai Bentuk Syukur

Mei 5, 2026
55
71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?

71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?

April 27, 2026
87
Next Post
241 Anak Palestina Terbunuh di Tepi Barat, B’Tselem: Tertinggi Sejak Pendudukan 1967

241 Anak Palestina Terbunuh di Tepi Barat, B’Tselem: Tertinggi Sejak Pendudukan 1967

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Pos pemeriksaan di Tepi Barat (PCHR)

    Palestina dalam Kebutaan Dunia: Di Tengah Eskalasi Regional, Tepi Barat dan Gaza Menghadapi Teror Tanpa Akhir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Palestine Situation Report 99

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Palestina Hari Ini dan Hipokrisi Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Eskalasi dan Agresi; Dalih Israel untuk Mengambil Alih Kendali Masjid Al-Aqsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630