Lebih dari 1.150 tenaga medis dan organisasi kesehatan menyerukan boikot terhadap IMA (Asosiasi Medis Israel). Mereka menilai IMA gagal menjalankan etika profesi selama agresi Israel di Gaza serta mendesak Dewan Medis Dunia (WMA) agar menangguhkan keanggotaan IMA.
Kampanye ini berlangsung di bawah pimpinan People’s Health Movement, Doctors for Gaza, dan Health Advisory Council of Jewish Voice for Peace. Mereka menilai IMA tetap diam saat sistem kesehatan Gaza Israel hancurkan, tenaga medis Palestina dibunuh atau ditahan, serta ketika laporan penyiksaan di pusat-pusat penahanan Israel muncul.
Menurut penyelenggara kampanye, sejak Oktober 2023, sebanyak 1.722 tenaga kesehatan Palestina terbunuh. Selain itu, rumah sakit, ambulans, dan klinik terus menjadi sasaran serangan. Akibatnya, layanan kesehatan di Gaza mengalami kelumpuhan serius. Namun, hingga kini IMA belum mengeluarkan kecaman yang jelas.
Jurnal medis The Lancet melaporkan bahwa para penggagas kampanye ingin pembahasan penangguhan IMA masuk agenda Sidang Umum WMA pada Oktober mendatang. Mereka juga menilai IMA tidak pernah menyerukan gencatan senjata atau menanggapi laporan PBB terkait dugaan genosida terhadap warga Palestina.
Di sisi lain, IMA menolak seluruh tuduhan tersebut. Organisasi itu menyebut informasi yang beredar tidak akurat atau masih menjadi perdebatan. IMA juga menegaskan bahwa organisasi profesi tidak boleh disamakan dengan kebijakan pemerintah.
Meski demikian, para pengusul boikot menilai dialog tanpa pertanggungjawaban hanya akan menormalisasi penghancuran sistem kesehatan Gaza. Oleh karena itu, mereka terus mendesak WMA mengambil tindakan terhadap IMA dan meningkatkan perlindungan bagi tenaga medis Palestina.








