ADARA — Adara Relief International kembali menggelar Temu Kangen Dekap Yatim Palestina (DYP) secara virtual melalui Zoom Meeting pada Kamis (21/5). Agenda ini menjadi ruang perjumpaan hangat antara orang tua asuh Indonesia dan anak-anak yatim Gaza yang selama ini mereka dampingi melalui Program Dekap Yatim Palestina.
Dalam sambutannya, Maryam Rachmayani (Direktur Utama Adara) menyampaikan bahwa DYP bukan sekadar program bantuan, melainkan upaya untuk menjaga masa depan anak-anak Gaza yang kehilangan keluarga akibat agresi Israel.
Adara memulai program ini dengan mengkafalahi 763 anak di tahun 2021. Saat ini, lebih dari 2000 yatim Gaza berada di bawah naungan Dekap Yatim Palestina.
Dr. Danial Basil, menggambarkan kondisi yatim Gaza yang semakin memprihatinkan. Hingga hari ini, Gaza memiliki lebih dari 60 ribu anak yatim, jumlah terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Banyak di antara mereka hidup di pengungsian, kehilangan keluarga, bahkan mengalami luka permanen akibat serangan. Namun, anak-anak Gaza tetap menyimpan mimpi dan keteguhan yang luar biasa di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.
Saat Anak-Anak Gaza Menyapa “Ayah dan Bunda” dari Indonesia

Sesi perjumpaan langsung antara orang tua asuh dan anak-anak yatim Gaza menjadi momen hangat dalam Temu Kangen DYP.
Raed Hilmi Sayam, hafizh Al-Qur’an yang mendapat kafalah selama lima tahun terakhir, menyampaikan rasa syukurnya karena dapat terus belajar dan menghafal Al-Qur’an di tengah situasi yang sulit.
Sementara itu, Mohammad Mossab, bocah enam tahun dari Khan Younis, membacakan puisi tentang Gaza. Ia bercita-cita menjadi insinyur untuk membangun kembali negeri tercintanya.
Tak kalah menyentuh, Nada Atallah bercita-cita menjadi pengacara agar dapat memperjuangkan keadilan untuk masyarakat Gaza.
Ada pula Omar Ismael yang ingin menjadi guru bahasa Inggris agar rakyat Gaza dapat berbicara kepada dunia tentang penderitaan yang mereka alami.

Menghadirkan Kehangatan Idul Adha untuk Yatim Gaza
Meski hidup di bawah blokade dan tinggal di tenda pengungsian, anak-anak Gaza tetap menyambut Idul Adha dengan penuh harapan. Baraa Mousa Saadi menceritakan hangatnya momen takbiran di masjid, kebersamaan bersama keluarga, serta kerinduan akan kehidupan yang aman dan damai.
Di sisi lain, Lin Mahmoud Hafs, anak perempuan 11 tahun dari Khan Younis, menghangatkan pertemuan ini dengan hafalan hadits tentang keutamaan mengkafalahi anak yatim. Dengan suara polosnya, Lin mengingatkan bahwa Rasulullah SAW begitu mencintai orang-orang yang membersamai dan menjaga kehidupan yatim.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa dukungan untuk yatim Gaza bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan ikhtiar menjaga masa depan mereka yang tumbuh di tengah kehilangan dan keterbatasan.
Oleh karena itu, menjelang Hari Raya Idul Adha, Adara kembali mengajak masyarakat menghadirkan kebahagiaan untuk Gaza melalui program Bagi-Bagi Qurban. Tahun ini, Adara menargetkan pengiriman 18.018 kaleng kornet qurban agar anak-anak yatim dan keluarga pengungsi tetap dapat merasakan hangatnya hari raya.

Di tengah krisis pangan yang semakin memburuk, satu kaleng kornet mungkin tampak sederhana. Namun bagi anak-anak Gaza, itu menjadi tanda bahwa mereka tidak sendiri. Masih banyak saudara di Indonesia yang terus mengingat, mendoakan, dan membersamai perjuangan mereka.
Sahabat Adara, mari turut serta hangatkan Idul Adha masyarakat Gaza melalui https://adaradonation.com/campaign/bagi-bagi-qurban.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)