Langkah lunglai kaki para pengungsi Palestina menapaki tanah Lebanon yang penuh luka, meratapi ujian agresi yang seolah belum tampak ujungnya. Meski kesepakatan gencatan senjata telah dimulai sejak 16 April, kenyataan di lapangan berkata lain: pelanggaran demi pelanggaran terus terjadi, memaksa para pengungsi terjebak dalam pusaran ketakutan. Di antara puing dan kepulan asap, mereka terus mencari perlindungan di manapun mereka bisa. Rasa cemas terus menghantui bahwa rumah yang mereka tinggalkan mungkin takkan pernah lagi bisa mereka datangi dengan aman.
Situasi di Lebanon sangatlah rapuh. Bagi banyak keluarga, gencatan senjata masih belum membawa rasa aman yang sejati. Kerapuhan yang terjadi di Lebanon menunjukkan kekacauan dalam berbagai aspek, membuat kehidupan yang awalnya berjalan normal menjadi lumpuh dan semakin penuh dengan ketidakpastian. Sektor pendidikan terhenti, fasilitas kesehatan kewalahan, dan beberapa markaz Al-Qur’an yang menjadi tumpuan spiritual pun terpaksa menutup pintu kegiatan mereka demi keselamatan.
Terdapat ribuan keluarga pengungsi, termasuk di antaranya keluarga dari 452 anak Palestina dalam program Hidupkan Ahlul Qur’an (HAQ), melihat kejadian ini tidaklah sebentar. Bagi mereka, ini bukan sekadar berita, melainkan realitas pahit yang harus mereka hadapi setiap detik. Agresi mencoba merebut hak mereka untuk bertumbuh. Meskipun demikian, keteguhan yang mereka miliki tidak dapat padam oleh agresi yang terjadi.
Memasuki laporan keempat di tahun 2026 ini, program HAQ yang Adara kelola semakin menghadapi tantangan yang luar biasa; belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak terjadinya agresi, keadaan Lebanon semakin tidak stabil, dan ini berdampak pada keberlangsungan kegiatan program HAQ di kamp pengungsian. Namun, tim Adara di lapangan menolak untuk menyerah pada keadaan. Mereka tetap menjalankan tugas kemanusiaan dengan terus memantau 452 anak dan menyalurkan dana yang Sahabat Adara titipkan untuk mereka.
“Terlepas dari situasi yang belum pernah kami hadapi sebelumnya, kami tetap teguh dalam menjalankan tugas. Tugas ini meneguhkan hati kami dalam perjalanan membumikan Al-Qur’an di tanah yang Allah berkahi. Sebab Al-Qur’an inilah yang menguatkan hati kami di saat cobaan dan ujian menghampiri,” ungkap salah seorang tim Adara di lapangan, Mohamad Abu Touyun.
Agresi telah menciptakan kekacauan sistemik. Beberapa markaz Al-Qur’an terpaksa tutup demi keamanan, terutama yang berada di wilayah Lebanon Selatan, sebagai wilayah paling rentan sebab menjadi sasaran dominan serangan agresi. Akibatnya, kegiatan belajar qur’an secara tatap muka pun terpaksa terjeda sejenak. Namun, keterbatasan fisik ini tidak menghentikan langkah anak-anak; mereka tetap memaksimalkan hafalan secara mandiri di tempat pengungsian masing-masing. Sementara itu, di wilayah yang relatif lebih aman, aktivitas markaz tetap diupayakan berjalan meski harus dialihkan secara daring.
Tim lapangan Adara mengungkapkan, keteguhan anak-anak untuk menjaga bara semangat mempelajari dan menghafal Al-Qur’an tetap menyala meski di tengah ketidakpastian keadaan. Di sela-sela riuhnya suasana kamp pengungsian, sayup-sayup lantunan ayat suci masih terdengar. Al-Qur’an bukan hanya sebatas pelajaran sekolah mereka, melainkan menjadi ruang perlindungan jiwa yang meneguhkan hati mereka. Sebagaimana termaktub dalam Q.S Al-Furqon ayat 32,
“Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar)”. Keteguhan ini mengisyaratkan bahwa meski agresi dengan pongahnya mampu merobohkan bangunan, tapi dia tidak akan pernah bisa menghancurkan semangat serta hafalan yang telah tertanam dalam dada dan doa.
Penutupan akses belajar di seluruh wilayah telah memicu krisis pendidikan yang mengkhawatirkan bagi anak muda Palestina yang berada di kamp pengungsian. Penutupan paksa sekolah membuat anak-anak harus menghadapi kekosongan aktivitas di rumah—rawan menyeret mereka pada keputusasaan dan tanpa arah. Maka, di sinilah Program HAQ mengambil peran krusial dalam mempertahankan asa, serta menjaga moral dan intelektual mereka.
Bersama dengan Sahabat Adara serta tim di lapangan, Adara terus mengelaborasikan metode pembelajaran yang adaptif bagi anak-anak di tengah kecamuk agresi Lebanon. Hal ini bertujuan agar masa depan dan hak dasar anak-anak tetap terjaga. Penguatan program, baik melalui menyediakan fasilitas terbaik dan pendampingan secara berkala merupakan langkah prioritas yang diikhtiarkan untuk dilakukan. Sebab, selama Al-Qur’an tetap terjaga di dada mereka, di situlah cikal bakal bangkitnya harapan dari tanah pengungsian ini.
Baca kabar peserta program HAQ bulan sebelumnya Cahaya Al-Qur’an di Tengah Gemuruh Lebanon: Catatan Perjuangan 376 Anak Palestina di Kamp Pengungsian pada Bulan Maret
Bersama Menjadi Bagian dari Keteguhan Mereka
Sahabat Adara, di tengah guncangan agresi yang melanda Lebanon, banyak anak Palestina kini menghadapi hilangnya ruang kelas dan kekosongan aktivitas di rumah. Namun, di balik dinding-dinding pengungsian yang sempit, mereka menolak untuk menyerah pada keadaan. Maka, di sinilah kesempatan kita untuk terus menguatkan asa mereka, terlebih dalam menjaga hafalan Al-Qur’an. Masih banyak anak Palestina di kamp pengungsian yang masih berjuang sendirian dalam mempertahankan kalamullah. Adara mengajak seluruh Sahabat menjadi bagian dari keteguhan mereka dalam menjaga Al-Qur’an melalui Program Hidupkan Ahlul Qur’an. Karena, di setiap huruf yang mereka lantunkan, mengalir pula pahala jariyah dan keberkahan bagi kita yang membantu mereka.









