Di kamp-kamp pengungsian Palestina di Lebanon, aroma Ramadan biasanya dihiasi dengan riuh rendah suara anak-anak yang bergegas menuju markaz, memeluk Al-Qur’an mereka dengan erat, dan menyiapkan hafalan terbaiknya untuk disetorkan dalam setiap salat. Namun, bagi 376 anak Palestina yang tergabung dalam program Hidupkan Ahlul Quran (HAQ), Ramadan kali ini datang dengan nuansa yang berbeda dari biasanya. Seketika berganti dari rasa haru dan suka menjadi rasa takut yang menderu sebab suara pesawat tempur Zionis di langit Lebanon Selatan.
Sejak awal bulan Maret bersambut, wilayah Lebanon Selatan yang menjadi tempat tinggal bagi lebih dari separuh siswa program ini—yaitu sekitar 52% dari total anak asuh—berubah menjadi zona penuh ketidakpastian. Serangan demi serangan yang hadir benar-benar menghancurkan jembatan penghubung dan memutus urat nadi kehidupan. Di tempat yang seharusnya menjadi ruang-ruang halaqah Al-Qur’an, kini yang terdengar adalah dentuman bom yang meruntuhkan keheningan malam-malam beribadah. Banyak warga setempat terperangkap dalam tembok rumah susun mereka, tak terkecuali anak-anak dalam program ini.
Tragedi serangan ini bukan hanya berbicara soal angka atau laporan statistik. Dia memiliki wajah, dan salah satunya adalah wajah Raneem Kaoush (Id: L763-A), salah satu siswa penerima manfaat program HAQ. Di tengah bulan Ramadan yang mulia ini, dunia Raneem seolah runtuh. Sebuah serangan datang menelan rumah mungilnya. Dalam sekejap, Raneem kehilangan orang yang dia cintai. Ayah dan ibunya syahid, meninggalkan dirinya dan saudara-saudaranya yang terluka di tengah puing-puing bangunan yang hancur. Hangat pelukan dari kedua orang tua sebagai penguatnya dalam menghafal kini pun sirna. Seketika berganti menjadi status sebagai seorang yatim piatu di tanah yang diserang.
Agresi brutal yang Zionis lakukan memang tidak memandang apapun, bahkan seorang anak kecil sekalipun. Serangan di tanah Lebanon Selatan itu memaksa ratusan siswa lainnya harus mengungsi demi menyelamatkan hidup mereka. Mau tidak mau mereka harus siap menanggung rasa pedih kehilangan tempat tinggal mereka, serta rasa takut akan kehilangan orang-orang tercinta. Sedangkan beberapa yang lainnya, tidak memiliki pilihan lain, terpaksa harus bertahan di tengah gemuruhnya Lebanon saat itu.
Di tengah duka yang menganga, rasa takut akan kehilangan, serta riuh gemuruh suara serangan, tidak menghilangkan bara semangat menghafal Al-Qur’an bagi tiga ratus siswa dalam Program HAQ. Anak-anak yang jauh dari lokasi serangan, mereka tetap melangkah ke markaz dengan tekad yang kuat. Sementara bagi mereka yang terpaksa mengungsi atau terjebak di rumah yang sedang terkepung, Al-Qur’an tetap dalam genggaman. Melalui sambungan telepon yang sesekali terputus, suara-suara anak penghafal Al-Qur’an ini tetap terdengar. Mereka tetap semangat menyetorkan hafalan mereka, ayat demi ayat yang mereka lantunkan kepada guru mereka. Ayat Al-Qur’an yang mereka hafal menjadi benteng pertahanan terakhir mereka untuk tetap menjaga kewarasan hati dan pikiran di tengah agresi brutal.
Terlepas dari situasi mencekam ini, tim di lapangan akan terus berupaya agar Program HAQ tetap berjalan. Program ini menjadi jembatan kebaikan bagi 376 anak Palestina di kamp pengungsian. Dengan terus menghubungkan mereka dan Al-Qur’an, anak-anak ini akan memperoleh “senjata” spiritual dalam menghadapi masa-masa tersulit dalam hidup mereka. Meskipun markaz yang ada kini sepi dari tawa dan suara lantunan hafalan Qur’an, namun ayat tersebut akan terus ada dalam hati setiap anak dan terus bergaung di balik dinding-dinding rumah dan tenda-tenda pengungsian.
Laporan ini bukan hanya sekadar kabar penyaluran, melainkan sebuah pengingat bahwa ada anak-anak yang bertaruh nyawa dan tetap berpegang teguh pada Qur’an di sudut bumi di kamp pengungsian Lebanon. Sementara itu, bantuan yang Sahabat Adara berikan akan sangat berguna sebab menjadi mesin penggerak dalam menjaga perjuangan 376 anak penghafal Al-Qur’an di kamp pengungsian.
Semoga Allah Swt senantiasa menjaga mereka dan kita semua, serta segera mengubah situasi ini menjadi lebih baik untuk meringankan penderitaan yang anak-anak Palestina hadapi.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)