Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa krisis kesehatan di Gaza kian memburuk akibat pembatasan ketat Israel terhadap masuknya bantuan medis. Hal ini melemahkan respons pelayanan kesehatan dan meningkatkan risiko wabah penyakit lintas kawasan.
Dalam pernyataan pers di Jenewa, Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, Hanan Balkhy, menegaskan bahwa situasi di Gaza tidak lagi semata dipicu oleh serangan militer, tetapi juga oleh hambatan sistematis terhadap akses layanan kesehatan. Kondisi ini membuat warga sipil semakin rentan di tengah kebutuhan medis yang terus meningkat.
Ia menyebut akses terhadap layanan kesehatan kini “sangat terancam”. Sistem kesehatan Gaza berada di ambang kolaps akibat keterbatasan pasokan, pembatasan pergerakan, serta lonjakan pasien. Meski bantuan medis tersedia, distribusinya terhambat.
Baca juga : “Krisis Gaza Memburuk, Tiga Saudari Terancam Nyawa”
“Truk, obat-obatan, dan peralatan medis tertahan, sementara pasien tidak mendapatkan perawatan atau hanya menerima layanan sangat terbatas,” ujarnya. Sebagian besar perlintasan menuju Gaza masih Israel tutup, sehingga aliran bantuan medis sangat terbatas.
Krisis juga semakin parah akibat kekurangan bahan bakar. Rumah sakit terpaksa beroperasi dengan listrik bergilir, dan tanpa pasokan yang memadai, fasilitas kesehatan terancam berhenti total. “Ini bukan hanya mengancam rumah sakit, tetapi seluruh sistem kesehatan,” kata Balkhy.
Selain itu, eskalasi terbaru turut mengganggu mekanisme gencatan senjata yang sebelumnya seharusnya dapat memfasilitasi distribusi bantuan dan evakuasi medis. Proses evakuasi pasien kini berlangsung tidak teratur, membuat banyak pasien kritis kehilangan akses terhadap perawatan yang dapat menyelamatkan nyawa.
WHO memperkirakan, pemulihan infrastruktur Gaza yang hancur—termasuk rumah sakit dan permukiman—dapat memakan waktu puluhan tahun, menciptakan kondisi yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit.
Sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025, hanya 388 pasien—termasuk 47 anak—yang berhasil dievakuasi untuk pengobatan di luar Gaza. Sejak Oktober 2023, total evakuasi yang WHO fasilitasi mencapai 3.668 pasien.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)