Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk. Hal ini ditandai dengan runtuhnya sistem kesehatan dan terbatasnya akses kebutuhan dasar. Di tengah kondisi tersebut, tiga saudari Palestina menghadapi ancaman serius akibat penyakit genetik langka yang mereka hadapi tanpa akses pengobatan memadai.
Masa al-Khatib dirawat dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Tubuhnya lemah dan bergantung pada alat medis, sementara dua saudarinya yang memiliki kondisi serupa terus mengalami infeksi berulang. Ayah mereka menyebut pengobatan di Gaza tidak memberikan hasil signifikan.
Pada 2024, ketiganya sempat mendapat rujukan melalui World Health Organization (WHO), namun tidak dapat meninggalkan Gaza akibat penutupan perbatasan. Dokter menyatakan Masa membutuhkan transplantasi sumsum tulang, prosedur yang tidak tersedia di wilayah tersebut.
Baca juga : “Israel Kembali Serang Gaza di Tengah Gencatan Senjata“
Kondisi keluarga juga semakin parah akibat keterbatasan pangan dan obat-obatan. Bahkan kebutuhan dasar seperti makanan bergizi sulit dipenuhi. Situasi ini mencerminkan krisis yang lebih luas di Gaza.
OCHA memperingatkan bahwa kebutuhan kemanusiaan jauh melampaui kapasitas bantuan yang ada. Kerusakan fasilitas vital, termasuk instalasi desalinasi air akibat serangan udara, menurunkan pasokan air bersih hingga di bawah 20 persen. Akibatnya, ratusan ribu warga kehilangan akses air layak.
Keterbatasan air, sanitasi, dan minimnya alat kebersihan meningkatkan risiko penyebaran penyakit, terutama di wilayah padat pengungsi. Penumpukan sampah dan limbah memperburuk kondisi lingkungan, menjadikan banyak area di Gaza tidak layak huni.
Di tengah krisis berlapis ini, sekitar 22.000 pasien di Gaza membutuhkan evakuasi medis, namun akses keluar wilayah tetap sangat terbatas. Kisah keluarga al-Khatib hanyalah contoh penderitaan ribuan warga lainnya yang terjebak tanpa akses perawatan yang menyelamatkan nyawa.








