Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists/CPJ) mengecam pembunuhan sedikitnya tiga jurnalis akibat serangan Israel di Gaza dan Lebanon dalam satu hari. Mereka menyerukan tindakan internasional yang mendesak.
Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, menyatakan bahwa insiden ini bukan peristiwa terpisah, melainkan mencerminkan kegagalan sistematis dalam melindungi jurnalis sipil sesuai hukum internasional. Ia memperingatkan bahwa tanpa pertanggungjawaban, serangan serupa akan terus meningkat.
Di Gaza, jurnalis Mohammed Samir Washah terbunuh akibat serangan drone Israel yang menargetkan mobilnya di Kota Gaza. Washah dikenal sebagai koresponden Al Jazeera Mubasher.
Sementara itu di Lebanon, dua jurnalis turut menjadi korban dalam serangan terpisah. Ghada Dayekh, seorang presenter radio, dan Suzan Khalil, yang bekerja untuk Al-Manar TV dan Al-Nour Radio, telah terbunuh.
Pembunuhan ini terjadi di tengah meningkatnya serangan Israel di Lebanon, meskipun pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran baru saja tersebar beberapa jam sebelumnya.
Menurut CPJ, agresi di Gaza merupakan yang paling mematikan bagi jurnalis. Sedikitnya 260 pekerja media terbunuh sejak Oktober 2023. Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah korban jurnalis juga meningkat di Lebanon seiring meluasnya ketegangan regional.
CPJ menegaskan bahwa perlindungan terhadap jurnalis merupakan kewajiban hukum internasional. Mereka menyerukan langkah konkret dari komunitas global untuk menghentikan impunitas serta menjamin keselamatan pekerja media.








