Seorang ibu Palestina di Gaza menyerukan intervensi internasional agar dapat kembali bersatu dengan tiga anaknya yang kini berada di Prancis setelah mereka terpisah secara paksa.
Raghda Al-Sheikh terpisah dari anak-anaknya yaitu Rabhi (11), Nour (10), dan Hussam al-Din (8), sejak mereka dievakuasi ke Prancis pada awal agresi. Ia sendiri tertinggal di Gaza dengan harapan bisa menyusul, namun hingga kini ia tidak dapat keluar.
Anak-anak tersebut tiba di Prancis bersama ayah dan kakek mereka pada Desember 2023. Namun pada Juli 2024, otoritas perlindungan anak Prancis mengambil mereka dari sang ayah dan menempatkannya di fasilitas negara, dengan tuduhan kekerasan–meskipun hal ini telah pihak keluarga bantah.
Sejak saat itu, komunikasi dengan orang tua sangat terbatas. Raghda mengatakan ia hampir tidak memiliki kontak dengan anak-anaknya selama setahun terakhir, kecuali hanya melalui pesan tertulis. Dalam sidang pengadilan Maret 2026, anak-anak tersebut menyatakan ingin kembali bersama orang tua mereka.
Kini Raghda hidup sebagai pengungsi di Kota Gaza City dan menghadapi hidup yang sangat sulit setelah rumahnya hancur. Ia menyuarakan kekhawatirannya akan kehilangan anak-anaknya secara permanen, termasuk kekhawatiran bahwa anak-anaknya akan kehilangan identitas, bahasa, dan budaya mereka. Ia mendesak agar mendapat izin pergi ke Prancis atau anak-anaknya bisa pulang.
Menurut PBB, lebih dari 1,9 juta warga Gaza telah mengungsi dan sebagian besar kehilangan rumah mereka. Di tengah gencatan senjata yang rapuh, penderitaan warga sipil terus berlanjut—termasuk kisah seorang ibu yang hanya ingin kembali memeluk anak-anaknya.
Sumber: QNN








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)