Sektor pertanian di Jalur Gaza kini berada di ambang kelumpuhan total dengan total kerugian yang mencapai 3,49 miliar dolar AS, atau sekitar Rp56 triliun. Kementerian Pertanian Gaza merinci bahwa nilai kerugian tersebut terdiri dari 1,9 miliar dolar AS berupa kerugian langsung, sementara 1,59 miliar dolar AS lainnya merupakan dampak kerugian tidak langsung yang menghancurkan infrastruktur produksi pangan utama wilayah tersebut.
Kerusakan paling signifikan terjadi pada sektor tanaman. Sebanyak 158.909 dunam dari total 182.247 dunam lahan pertanian hancur total. Dampak sistemik ini diperparah dengan berhentinya operasional 8.700 sumur pertanian, hancurnya 3.828 kolam air, serta rusaknya 1.371 kilometer jaringan irigasi yang menjadi tulang punggung produksi pangan lokal.
Baca juga: “71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?”
Selain sektor tanaman, kehancuran meluas hingga ke sektor peternakan dan perikanan yang menjadi sumber mata pencaharian ribuan warga. Data menunjukkan lebih dari 5.450 peternakan dan 2.300 kandang unggas rusak, serta 1.674 kapal nelayan tidak dapat beroperasi. Dampak pada sektor hewan ternak juga sangat masif, sekitar 69.000 ternak, 2,79 juta unggas, dan 28.400 sarang lebah turut terdampak.
Krisis ini telah memutus sumber pangan utama masyarakat Gaza dan menciptakan ancaman kerawanan pangan yang semakin berat bagi penduduk setempat.
Kementerian juga mencatat kerusakan pada pembibitan, tempat penyimpanan hasil panen, laboratorium, serta fasilitas pelabuhan. Ini mengakibatkan produksi pangan menurun tajam dan ribuan keluarga kehilangan mata pencaharian.
Kementerian Pertanian mendesak lembaga internasional, badan PBB, dan para donor untuk segera membantu pemulihan sektor pertanian. Dukungan tersebut diharapkan mampu memulihkan produksi pangan dan mengurangi ketergantungan warga terhadap bantuan kemanusiaan.
Sumber: Palinfo








