Seorang pemukim Israel meludahi bagian pintu masuk Biara St. James yang terletak di Armenian Quarter, Kota Tua Al-Quds (Yerusalem Timur). Otoritas Palestina mengonfirmasi kejadian tersebut pada Ahad (06/09), mengutip laporan kantor berita Anadolu.
Kegubernuran Al-Quds (Yerusalem) menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan bagian dari serangkaian serangan berulang. Serangan tersebut menargetkan gereja, biara, dan rohaniwan Kristen di Kota Tua. Serangan tersebut mencakup tindakan meludah, penghinaan, kekerasan fisik, dan vandalisme. Kegubernuran turut merilis rekaman video bukti yang merekam aksi provokatif pelaku saat meludahi pintu masuk biara bersejarah tersebut.
Insiden pelecehan ini terjadi hanya berselang sehari setelah Menteri Luar Negeri Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, menerima kunjungan delegasi organisasi Churches for Middle East Peace (CMEP) pada Sabtu (05/09). Dalam pertemuan tersebut, Menlu Shahin memaparkan situasi krisis yang kian memburuk di Tepi Barat akibat meningkatnya kekerasan pemukim di bawah perlindungan militer Israel.
Ia menyoroti berbagai tantangan yang komunitas Kristen Palestina hadapi. Ia juga menyoroti penurunan jumlah penduduk Kristen akibat kondisi sulit yang masyarakat Palestina alami. Menanggapi hal tersebut, para delegasi CMEP menyatakan solidaritas penuh sekaligus menyuarakan kekhawatiran mendalam atas berbagai tantangan yang umat Kristen hadapi serta terus menurunnya jumlah mereka di Tanah Suci dan seluruh wilayah Palestina.
Baca juga: Kejahatan Pemukim Catat 1.223 Pelanggaran di Tepi Barat
Pada 11 Agustus, Komite Kepresidenan Tinggi untuk Urusan Gereja di Palestina menyatakan bahwa serangan Israel terhadap komunitas Kristen mengancam keberadaan mereka yang telah berlangsung selama berabad-abad di tanah tersebut.
Komite tersebut mengatakan bahwa serangan terhadap umat Kristen Palestina “tidak lagi merupakan insiden yang terpisah-pisah,” melainkan bagian dari pola yang terus berlangsung. Pola tersebut mencakup serangan oleh penjajah Israel, penyitaan tanah, perluasan permukiman, serta pembatasan kebebasan beribadah.
Sekitar sepekan lalu, sekolah-sekolah Kristen di Al-Quds bagian timur yang diduduki menghentikan kegiatan belajar hingga waktu yang belum ditentukan. Hal ini terjadi setelah Israel gagal memperbarui izin masuk bagi lebih dari 70 guru dan staf. Akibatnya, mereka tidak dapat mencapai sekolah tempat mereka bekerja.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah serangkaian serangan terhadap keberadaan komunitas Kristen di wilayah Palestina. Serangan itu mencakup penyerangan terhadap rohaniwan dan gereja, termasuk tindakan meludah, penghinaan, serta berbagai bentuk pelecehan lainnya.
Sejak mulainya agresi Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023, Tepi Barat yang diduduki juga mengalami peningkatan tajam dalam serangan dan penggerebekan militer Israel setiap harinya.
Sumber: MEMO








