Setelah melalui proses penahanan selama hampir sembilan bulan, otoritas Israel akhirnya menyerahkan jenazah seorang remaja Palestina berusia 15 tahun kepada pihak keluarga.
Jenazah Jadallah Jihad Juma Jadallah Israel serahkan pada Kamis (03/09), memungkinkan keluarganya untuk membawanya pulang ke kamp pengungsi Al-Far’a di selatan Tubas dan menggelar pemakaman layak setelah penantian panjang.
Pasukan Israel menembak Jadallah pada 16 November 2025 saat melakukan serangan ke kamp tersebut. Menurut sumber Palestina, ambulans sempat Israel larang mencapai lokasi ketika Jadallah tertembak. Pasukan Israel kemudian membawa jenazahnya setelah ia dinyatakan meninggal.
Pemulangan jenazah ini dapat terwujud setelah keluarga melaluinya lewat jalur hukum yang panjang dan melelahkan. Pada Maret 2026, pengacara Mohammad Abu Sneineh secara resmi mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Israel.
Baca juga: Israel Menahan 31 Anak-Anak dan 11 Perempuan Sepanjang Bulan Agustus
Langkah hukum tersebut mendapat dorongan dari Kampanye Nasional Pengembalian Jenazah Syuhada Palestina, yang mendesak agar otoritas pendudukan segera memulangkan jenazah korban kepada keluarga mereka untuk dimakamkan sesuai haknya.
Kasus Jadallah mencerminkan persoalan yang jauh lebih luas. Hingga Agustus 2026, Israel masih menahan sedikitnya 799 jenazah Palestina yang telah teridentifikasi.
Data tersebut mencakup 256 jenazah di “pemakaman bernomor”. Selain itu, Israel menahan 99 jenazah tahanan Palestina, 81 anak-anak, dan 10 perempuan.
Namun, jumlah tersebut belum menggambarkan skala penuh dari kebijakan penahanan ini. Laporan surat kabar Haaretz mengutip estimasi internal Israel yang menyebutkan bahwa total keseluruhan jenazah yang ditahan diperkirakan mencapai sekitar 1.700 jasad.
Sebagian besar jenazah tersebut berasal dari Gaza. Identitas banyak korban juga belum diketahui karena proses identifikasi menghadapi berbagai kendala.
Praktik penahanan jenazah Palestina bukanlah hal baru, melainkan telah berlangsung selama puluhan tahun melalui sistem “pemakaman bernomor”.
Kendati keluarga Jadallah akhirnya dapat memakamkan putra mereka, namun ratusan keluarga Palestina lainnya masih menunggu hak yang sama.
Sumber: Palinfo







