Pengadilan Israel resmi menghentikan sementara rencana kontroversial untuk menempatkan buaya di kompleks penjara tawanan Palestina. Rencana yang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir usulkan tersebut mendapat gugatan dari sejumlah organisasi perlindungan satwa—meski gugatan mereka ajukan atas dasar kekhawatiran terhadap keselamatan buaya, bukan mempertimbangkan kondisi para tawanan Palestina.
Sebelumnya, pemerintah Israel bahkan telah mulai menggali parit di sekitar Penjara Ketziot yang terletak di Gurun Negev. Mereka berencana menjadikan buaya Nil sebagai bagian dari sistem pengamanan dan pencegahan pelarian di penjara tersebut. Langkah ini terjadi setelah Menteri Perlindungan Lingkungan Israel, Idit Silman, mengubah status hukum buaya Nil dari satwa yang dilindungi menjadi “satwa budidaya”.
Kendati demikian, Hakim Avraham Rubin dari Pengadilan Distrik Al-Quds (Yerusalem) mengeluarkan perintah penangguhan sementara. Pengadilan menilai bahwa dugaan dampak buruk terhadap kesejahteraan satwa tersebut perlu mendapat penelitian lebih mendalam sebelum proses pemindahan dapat berlanjut. Sejumlah lembaga lingkungan hidup sendiri sebelumnya telah menolak rencana itu. Hal tersebut terjadi karena rencana itu tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat serta membahayakan keselamatan petugas penjara.
Rencana itu menjadi salah satu dari sejumlah kebijakan Ben Gvir yang menuai kritik terkait perlakuan terhadap tawanan Palestina. Menurut kelompok advokasi tawanan Palestina, lebih dari 9.600 warga Palestina saat ini berada di penjara Israel, termasuk 84 perempuan dan 350 anak.
Sumber: MEE








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)