Israel tolak peta jalan gencatan senjata Gaza yang didukung Amerika Serikat karena ingin mempertahankan operasi militernya. Selain itu, Israel mengajukan sejumlah keberatan terhadap mekanisme pelaksanaannya.
Peta jalan tersebut mengatur pelucutan senjata faksi-faksi Palestina secara bertahap seiring penarikan pasukan Israel dari Gaza. Namun, Hamas menegaskan bahwa pelucutan senjata hanya dapat dilakukan secara paralel dengan penarikan bertahap militer Israel. Sebaliknya, pihak Israel secara tegas menolak untuk menarik mundur pasukannya sebelum seluruh persenjataan Hamas diserahkan sepenuhnya.
Tidak hanya itu, Israel juga menuntut kebebasan penuh untuk melanjutkan aksi militer di Gaza selama masa implementasi kesepakatan berlangsung, serta secara terbuka menolak keterlibatan Qatar dan Turkiye dalam komite internasional yang bertugas mengawasi jalannya peta jalan tersebut. Penolakan ini semakin diperparah oleh kuatnya tekanan politik domestik yang dihadapi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari kelompok koalisi sayap kanan.
Di sisi lain, Hamas menyatakan kesediaannya mengikuti peta jalan dengan syarat Israel memenuhi komitmen gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025. Komitmen itu mencakup penghentian serangan, masuknya bantuan kemanusiaan, serta penarikan pasukan dari Gaza.
Berdasarkan kesepakatan, senjata berat Hamas akan diserahkan kepada Komite Nasional Administrasi Gaza. Selanjutnya, senjata akan dinonaktifkan, sementara terowongan dan fasilitas produksi senjata dibongkar di bawah pengawasan internasional.
Meski demikian, Israel menolaknya dan terus melakukan serangan militer. Menurut laporan, lebih dari 1.200 warga Palestina telah teerbunuh sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.
Sumber: MEMO








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)