Ratusan pemukim Israel kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) pada Kamis (9/4), bertepatan dengan hari pertama pembukaan kembali setelah penutupan selama 40 hari.
Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 448 pemukim memasuki area masjid dalam dua gelombang, melalui Gerbang al-Magharibah dengan pengawalan ketat polisi Israel. Aksi tersebut bersamaan dengan sejumlah pelanggaran, seperti adanya nyanyian, tarian, dan ritual keagamaan di halaman masjid.
Pemerintah Provinsi Al-Quds (Yerusalem) menilai insiden ini sebagai eskalasi serius yang mengancam status historis dan hukum Al-Aqsa, serta memicu provokasi terhadap umat Islam. Penyerbuan kali ini juga berlangsung di tengah ketentuan baru yang memperpanjang jam kunjungan pemukim.
Jam masuk pemukim kini mulai lebih awal, dari pukul 06.30 hingga 11.30, dan berlanjut pada siang hari hingga total sekitar enam setengah jam per hari. Langkah ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk memperluas kontrol untuk menerapkan pembagian waktu di dalam kompleks masjid.
Baca juga : “Ben-Gvir Kembali Serbu Al-Aqsa, Eskalasi Meningkat”
Penyerbuan oleh pemukim telah berlangsung sejak 2003 dan semakin terorganisasi sejak 2008, dengan durasi yang terus Israel perpanjang setiap tahun. Otoritas Palestina menilai tren ini sebagai upaya bertahap untuk mengubah status quo di kawasan suci tersebut.
Sebelumnya, akses ke Al-Aqsa Israel tutup sejak 28 Februari dengan alasan keamanan di tengah ketegangan regional. Selama periode itu, hanya petugas Wakaf Islam yang mendapat izin masuk, sementara warga Palestina dilarang beribadah, termasuk saat Idulfitri. Hal tersebut merupakan pembatasan yang belum pernah terjadi sejak 1967.
Meski kini telah dibuka kembali, aparat Israel tetap memberlakukan pembatasan ketat, termasuk penahanan sejumlah jemaah. Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan di Al-Aqsa masih berlanjut di tengah perubahan ketentuan yang terus berlangsung.








