Pasien kanker Gaza kehilangan akses pengobatan akibat pembatasan obat-obatan dan evakuasi medis yang masih Israel berlakukan. Kondisi ini membuat ribuan pasien tidak dapat memperoleh terapi penyelamat jiwa.
Salah satunya adalah Kholoud Abu Sahmoud, dosen berusia 33 tahun asal Gaza. Setelah menjalani 15 kali kemoterapi, dokter menghentikan pengobatannya karena obat yang tersedia tidak sesuai dengan jenis kanker hati yang ia derita. Sejak sembilan bulan lalu, ia juga masih menunggu izin evakuasi medis ke luar Gaza.
Baca juga: “Hari Pengungsi Sedunia dan Penderitaan Pengungsi Palestina yang Tenggelam dalam Gejolak Timur Tengah”
Kementerian Kesehatan Palestina menyebut sekitar 11.000 pasien kanker berada di Gaza. Dari jumlah itu, sedikitnya 4.000 orang telah memperoleh rujukan medis, tetapi masih menunggu izin keluar wilayah untuk menjalani perawatan. Sementara itu, stok obat kemoterapi bagi berbagai jenis kanker telah mencapai tingkat kritis.
Direktur Pusat Kanker Gaza, Dr. Muhammed Abu Nada, mengatakan tenaga medis terpaksa menggunakan obat yang sudah kedaluwarsa sebelum akhirnya persediaannya benar-benar habis. Akibatnya, dokter hanya dapat memberikan terapi tunggal yang dinilai kurang efektif. Kondisi tersebut semakin memperparah situasi ketika pasien kanker Gaza kehilangan akses pengobatan.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 20.000 warga Gaza masih menunggu evakuasi medis, termasuk sekitar 4.000 anak. Namun, hingga akhir Juni, hanya 1.655 pasien yang berhasil dievakuasi.
Sumber: MEE








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)