Musim panen zaitun Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun ini kembali menghadapi tekanan. Di Tepi Barat, serangan pemukim Israel dan pembatasan akses menghambat petani memanen hasil kebun. Sementara itu, di Gaza, kerusakan lahan pertanian dan anjloknya produksi memperburuk kehidupan keluarga Palestina.
Pada Minggu (11/10), dua warga Palestina terluka setelah pemukim Israel pukuli di Far’ata, sebelah timur Qalqilya. Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, korban telah mendapat perawatan di rumah sakit.
Dalam insiden terpisah, organisasi hak asasi manusia Al-Baydar melaporkan bahwa pemukim dan tentara Israel menahan sejumlah perempuan Palestina yang sedang memanen zaitun di sebelah barat Salfit.
Sebelumnya, lima perempuan Palestina, termasuk seorang lansia, mengalami gangguan pernapasan akibat semprotan gas air mata di Yatma, selatan Nablus. Kantor berita WAFA melaporkan bahwa pasukan Israel memasuki lahan pertanian tempat warga memanen zaitun.
Baca juga: London Halal Forum 2026 Dibuka dengan Sarapan Khas Palestina
Al-Baydar mendesak perlindungan bagi petani Palestina untuk mengakses lahan dan memanen hasil kebun mereka dengan aman.
Sementara itu di Gaza, petani menghadapi kerusakan lahan, keterbatasan pasokan pertanian, serta akses yang terhalang karena sejumlah kebun berada di wilayah yang militer Israel kuasai atau di sekitar Garis Kuning.
Kamel Baraka, petani dari Deir al-Balah, mengatakan hasil satu pohon zaitun yang sebelum perang mencapai sekitar 100 kilogram kini hanya menghasilkan 20–30 kilogram. Penurunan tersebut mencapai sekitar 70–80 persen.
Menurut Baraka, luasnya lahan yang tidak dapat penduduk akses, kelangkaan pupuk dan air irigasi, serta meningkatnya biaya tenaga kerja dan transportasi membuat hasil panen semakin terbatas.
Biaya pengolahan zaitun menjadi minyak bahkan meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelum agresi genosida. Akibatnya, sebagian petani hanya mampu memanen untuk konsumsi keluarga atau menjual dalam jumlah kecil.
Kementerian Pertanian Gaza memperkirakan kerugian sektor pertanian akibat agresi sejak Oktober 2023 telah melampaui 3 miliar dolar AS. Sekitar 15.891 hektar lahan pertanian, atau 87 persen dari total lahan, dilaporkan mengalami kerusakan.
Kini keluarga Palestina tidak bisa lagi mengandalkan musim panen yang sebelumnya menjadi sumber pendapatan dan persediaan pangan tahunan.
Sumber: MEMO








