Investigasi surat kabar Israel, Haaretz, mengungkap kesaksian lima mantan tawanan Palestina mengenai kelaparan, pemukulan, dan buruknya kondisi penjara Israel. Laporan yang terbit pada 8 Oktober 2026 itu berdasar pada pengalaman mereka selama Israel tahan dalam 18 bulan terakhir.
Investigasi yang Hagar Shezaf dan Nir Hasson tulis tersebut mencakup kesaksian mantan tawanan dari penjara Megiddo, Nafha, Ketziot, Ofer, dan Damon, serta pusat penahanan militer di Huwwara.
Kelima mantan tawanan mengaku kehilangan 15 hingga 50 persen berat badan selama penahanan. Mereka juga melaporkan kekerasan fisik, hukuman kolektif, penghinaan berulang, infeksi kudis yang meluas, serta keterlambatan memperoleh perawatan medis.
Baca juga: Mantan Pejabat AS: Tuntutan Netanyahu Hambat Gencatan Senjata Gaza
Mereka memperkirakan kondisi tawanan asal Jalur Gaza mungkin lebih buruk. Salah satu narasumber, jurnalis Palestina Ali Samoudi, 59 tahun, mengaku kehilangan sekitar setengah berat badannya saat menjalani penahanan administratif selama setahun. Menurut laporan tersebut, ia dibebaskan tanpa dakwaan resmi.
Samoudi menceritakan pemukulan serta kekurangan makanan dan perawatan medis selama berada di penjara. Setelah dibebaskan, ia juga mengalami sejumlah masalah kesehatan.
Saat menangkapnya, otoritas Israel menyatakan mencurigai Samoudi mentransfer uang kepada kelompok Jihad Islam Palestina. Namun, Samoudi membantah tuduhan tersebut, sebagaimana laporan Haaretz.
Jurnalis Palestina lainnya, Samer Khweira, mengatakan ia melihat tawanan mengalami malnutrisi dan infeksi kudis parah hingga kesulitan bergerak. Ia juga mengaku tertular kudis selama penahanan.
Khweira menyatakan hingga kini tidak mengetahui alasan penangkapannya. Laporan mengungkapkan bahwa ia Israel bebaskan tanpa menjalani persidangan. Kesaksian para mantan tawanan ini menggambarkan dugaan perlakuan buruk di penjara Israel sejak mulainya agresi di Jalur Gaza.
Sumber: MEMO








