Mukena kini bukan lagi sekadar pakaian untuk salat bagi perempuan di Gaza. Di tengah agresi yang terus berlangsung, mukena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak perempuan mengenakan mukena hampir sepanjang hari karena selalu bersiap menghadapi serangan atau perintah mengungsi mendadak.
Pemandangan perempuan memakai mukena mudah ditemukan di permukiman, pusat pengungsian, hingga tenda-tenda darurat. Mereka memasak, mengurus anak, menata tempat tidur, bahkan mengantre air dan bantuan kemanusiaan tanpa melepas mukena.
Umm Mohammed, perempuan pengungsi dari Gaza utara, mengatakan bahwa ia kini tidur dan bangun dengan mengenakan mukena. Menurutnya, serangan udara atau perintah evakuasi dapat datang kapan saja sehingga tidak ada waktu untuk berganti pakaian.
Baca juga: “Remaja 15 Tahun Asal Al-Quds Ditembak Mati di Al-Bireh, Kegubernuran Kecam Eksekusi Israel”
Sebelum agresi genosida, ia hanya memakai mukena saat salat. Kini, pakaian itu memberinya rasa aman karena membuatnya tetap tertutup jika harus meninggalkan tempat tinggal secara mendadak.
Di pusat pengungsian Al-Mawasi, Khan Younis, banyak perempuan duduk berdampingan dengan mukena yang hampir seragam. Umm Ahmed, ibu lima anak, mengatakan bahwa agresi telah menghilangkan privasi mereka. Oleh karena itu, mukena menjadi cara paling sederhana untuk tetap merasa nyaman dan menjaga aurat di tengah ratusan pengungsi.
Peneliti sosial Maram Al-Azayza menjelaskan bahwa perubahan ini mencerminkan dampak psikologis dan sosial yang perempuan Gaza alami. Menurutnya, mukena kini bukan hanya pakaian ibadah, tetapi juga bentuk adaptasi terhadap rasa takut dan ketidakpastian yang mereka hadapi setiap hari.
Di Gaza, suara pesawat tempur telah menjadi bagian dari kehidupan. Bagi banyak perempuan, mukena menghadirkan rasa aman di tengah ancaman pengeboman, pengungsian berulang, dan hilangnya privasi. Mereka pun terus mengenakannya sebagai simbol kesiapsiagaan dan keteguhan menghadapi perang.
Sumber: Palinfo








