Menegaskan Kembali Sikap Soekarno terhadap Palestina

Usia Indonesia telah mencapai 76 tahun hari ini. Sudah banyak peristiwa yang dilalui, begitu banyak tulisan sejarah yang terukir di memori, tetapi masih banyak hal yang harus dipelajari. Pada hari kemerdekaan Indonesia ini, ada baiknya kita merefleksi kembali perjalanan Indonesia hingga bisa mencapai titik ini, guna mengukuhkan jati diri. Tahun berjalan, generasi demi generasi bergantian menetap di bumi pertiwi. Barangkali ada yang lupa atau bahkan belum mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang kita capai hari ini, ada peran besar sahabat sejati yang kadang kita luput untuk menyadari. Palestina, negeri yang suci, telah membersamai perjalanan kita sejak dulu sekali—meskipun kisahnya seringkali tidak dicantumkan dalam buku-buku sejarah yang diajarkan kepada anak-anak bangsa ini.

Palestina adalah sahabat sejati. Di balik kesulitan dan keterbatasannya, Palestina tetap mengutamakan kita, Indonesia. Ketika bangsa lain belum berani mengambil sikap, saat Indonesia masih dipandang sebelah mata, Palestina dengan segenap keyakinannya memberikan dukungan dan mengakui kemerdekaan Indonesia[1], setahun sebelum kemerdekaan itu sendiri tercapai. Padahal, kondisi Palestina sendiri saat itu belum merdeka, bahkan masih menderita akibat dijajah Zionis Israel. Tiada hal lain yang mendasari tindakan ini selain rasa cinta dan persahabatan yang teramat besar.

Baca juga: Peran Palestina terhadap Kemerdekaan RI

Melalui Mufti Besar dan Pemimpin Dewan Tertingginya yaitu Syekh Amin Al Husaini, Palestina dan seluruh rakyatnya menyampaikan ‘ucapan selamat’ kepada Indonesia melalui Radio Berlin pada 6 September 1944. Dalam siaran  tersebut, Syekh Amin menegaskan pengakuan Palestina akan Indonesia dan menjanjikan dukungan hingga Indonesia benar-benar memperoleh kemerdekaan. Ucapan Mufti Besar Palestina tersebut disiarkan selama dua hari berturut-turut, juga disebarkan melalui surat kabar harian Al Ahram.

Tentunya tidak mudah memberikan pengakuan kemerdekaan kepada bangsa lain ketika bangsa sendiri masih dalam kondisi terjajah. Akan tetapi, hal tersebut tetap dilakukan oleh Palestina melalui Syekh Amin Al Husaini. Syekh Amin sendiri saat itu sedang berada di Jerman karena mencari perlindungan dari pasukan kolonial Inggris dan Zionis Israel. Pasca ditandatanganinya Deklarasi Balfour pada 1917, orang-orang Yahudi semakin banyak yang bermigrasi ke Palestina. Rakyat Palestina pun melakukan berbagai upaya perlawanan demi mempertahankan tanah air mereka.

Pada 1933, paman Syekh Amin yaitu Musa Al Husaini, yang juga merupakan pejuang kemerdekaan Palestina, meninggal saat kerusuhan akibat dipukuli oleh polisi Inggris. Syekh Amin Al Husaini kemudian terpaksa mengungsi ke Italia, kemudian pindah ke Jerman karena pemerintahnya menawarkan perlindungan kepada para saudagar dan Mufti Besar Palestina dari pasukan kolonial Inggris dan Zionis Israel.

Selain sebagai Mufti Besar Palestina, Syekh Amin merupakan Presiden Kongres Muslim Dunia. Kongres Muslim Dunia adalah organisasi yang dibentuk ketika Raja Ibn Saud dari Arab Saudi mengadakan Kongres Muslim di Mekkah pada 1926. Dengan kapasitasnya sebagai pimpinan organisasi, Syekh Amin Al Husaini memanfaatkan hal tersebut untuk membantu Indonesia dengan melobi pemerintah Jepang. Syekh Amin mengirimkan telegram kepada Duta Besar Jepang untuk Jerman saat itu, kemudian menegur pemerintah Jepang karena belum juga memberikan kemerdekaan kepada Indonesia sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Kaisar Jepang. Syekh Amin juga meminta kepada Perdana Menteri Jepang saat itu, Kuniaki Koiso, untuk segera memutuskan nasib bangsa Indonesia. Melalui Syekh Amin, Kongres Muslim Dunia mendesak pemerintah Jepang agar segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Perjuangan Syekh Amin direspon oleh Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso, yang berjanji akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia secepatnya.

Syekh Amin Al Husaini juga memiliki hubungan baik dengan K.H. Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri Nadhlatul Ulama (NU). Mereka berdua pernah menimba ilmu di madrasah yang sama dan kerap saling berkorespondensi. Ketika mendapat kiriman salinan telegram Syekh Amin kepada pemerintah Jepang, K.H. Hasyim Asy’ari mengakui bahwa Syekh Amin Al Husaini memainkan peran yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melobi Jepang, Syekh Amin Al Husaini menggunakan pengaruhnya untuk melobi negara-negara Timur Tengah. Syekh Amin berusaha menghubungkan Indonesia dengan Raja Farouk dari Mesir hingga akhirnya Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia pada 22 Maret 1946. Setelah Mesir, Syekh Amin juga melobi negara-negara Liga Arab lainnya untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Pada 16 Oktober 1945, dibentuklah Lajnah Al Difa’an Istiqlal Indunisiya atau Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia ketika diadakan pertemuan di gedung Organisasi Pemuda Islam di Kairo. Pertemuan ini dihadiri oleh banyak pemimpin dan aktivis politik Arab yang meminta agar seluruh bangsa Arab mendukung kemerdekaan Indonesia, mengakui secara resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengumumkannya ke seluruh dunia.

Hasilnya, Pengakuan Mesir atas kemerdekaan Indonesia diikuti oleh Lebanon pada 29 Juni 1947, Suriah pada 2 Juli 1947, Arab Saudi pada 24 November 1947, dan Yaman pada Mei 1948. Pasca-Agresi Militer Kedua Belanda pada tahun 1948, Syekh Amin bahkan meminta agar seluruh negara anggota Liga Arab mengibarkan bendera Indonesia di samping bendera negara mereka di pelabuhan mereka masing-masing.[2] Rasa nasionalisme mereka berjalan beriringan dengan cinta dan persahabatan terhadap Indonesia.

Tak hanya dukungan melalui tindakan, Indonesia juga banyak mendapat bantuan materi dari Palestina. Sebagai Mufti Besar Palestina, Syekh Amin Al Husaini pernah memberikan dana bantuan kepada para pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Kairo, Damaskus, Beirut, dan Baghdad sebesar dua poundsterling per orang. Atas bantuan diplomasi dari Syekh Amin juga, Mesir membiayai seluruh biaya delegasi Indonesia sebesar US$25.000 untuk membawa kasus Indonesia ke PBB. Peran yang tidak kalah pentingnya juga dimainkan oleh Muhammad Ali Taher, sahabat Syekh Amin Al Husaini.[3]

Muhammad Ali Taher adalah seorang saudagar kaya dari Palestina. Ia telah menerbitkan surat kabar yang dibaca di banyak negara, delapan buku, dan ratusan artikel, serta sangat gigih menentang penjajahan di mana pun itu.[4] Demi membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia, Ali Taher memindahkan sebagian besar kekayaannya di Palestina dan memindahkannya ke bank-bank Indonesia untuk membantu mendukung perekonomian Indonesia. Sebuah tindakan yang sangat berani, mengingat Ali Taher sebenarnya bisa saja memilih menggunakan hartanya untuk kepentingan bangsanya sendiri. Tapi lagi-lagi, Palestina memilih untuk membantu perjuangan Indonesia, tanpa meminta balas budi.

Syekh Amin Al Husaini (tengah) dan Muhammad Ali Taher (di samping kirinya) bersama Pimpinan Panitia Pusat setelah beliau dapat lolos ke Kairo dari penangkapan Sekutu di Eropa dan mendapat perlindungan dari Raja Farouk. Sumber: observerid.com

 

Syekh Amin Al Husaini bersama Muhammad Ali Taher dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Haji Agus Salim, di Kairo pada 1946. Sumber: eltaher.org
Delegasi resmi Indonesia pertama setelah proklamasi kemerdekaan dalam pertemuan di “Dar Ashoura” di Kairo pada 1946. Dari kanan ke kiri : Dr.Boumenshak (Duta Besar Prancis), Mohammed Zein Hassan (Presiden Liga Kemerdekaan Indonesia di Mesir), Muhammad Ali Taher (Saudagar Palestina), Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri Indonesia), Mohamed Rashidi (Duta Besar Indonesia di Mesir). Sumber: eltaher.org

Palestina bukanlah bangsa yang asing. Palestina adalah sahabat, saudara, dan bagian dari Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki nama yang sama dengan wilayah suci di Palestina, yaitu Kota Kudus yang terletak di Jawa Tengah. Kudus berasal dari kata ‘Al-Quds’, yang berarti negeri yang suci. Dahulu, Syekh Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus hendak diberikan hadiah oleh Gubernur Mekkah atas jasanya yang telah memberikan solusi dalam menanggulangi epidemi yang dialami penduduk Mekkah. Akan tetapi, dengan rendah hati, Sunan Kudus menolak hadiah itu dan hanya berkenan menerima batu yang berasal dari Al Quds, Palestina. Batu inilah yang kemudian dipasang pertama kali ketika mendirikan Masjid Menara Kudus pada 956 H, yang pada awalnya diberi nama sesuai nama masjid suci di Palestina, yaitu Masjid Al-Aqsha.[5]

Selain Masjid Menara Kudus, salah satu desa di Kudus juga diberi nama mirip dengan ibukota Palestina. Desa tersebut bernama desa Dersalem, yang diambil dari kata Yerusalem. Kata Yerusalem sendiri memiliki kemiripan dengan Darussalam yang memiliki arti negeri yang damai. Nama ini diberikan dengan harapan desa tersebut dapat menjadi tempat yang damai sesuai namanya. Kemudian gunung yang berada di utara Kudus juga diambil dari nama sebuah bukit di dekat Al-Quds. Gunung tersebut diberi nama gunung Muria yang mirip dengan nama bukit di dekat Al-Quds yaitu Bukit Moriah. Betapa dekatnya sesungguhnya hubungan Indonesia dengan Palestina, namun tidak semua orang menyadarinya.[6]

Mengingat apa yang telah dilakukan oleh Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tidaklah berlebihan apabila Indonesia juga melakukan hal yang sama untuk Palestina. Terlebih lagi, hal tersebut sesuai dengan amanat  Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana tertuang dalam Mukadimah, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Upaya Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina telah dilakukan sejak masa Presiden Soekarno. Pada 1949, tidak berselang lama setelah pemerintah Belanda menandatangani penyerahan kedaulatan Indonesia, Presiden Zionis Israel, Chaim Weizmann dan Perdana Menterinya, David Ben Gurion menyampaikan “ucapan selamat” melalui telegram yang dikirimkan kepada Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dengan harapan Indonesia juga memberikan pengakuan serupa atas “negara” yang mereka dirikan pada 14 Mei 1948. Kemudian pada 1950, Menteri Luar Negeri Zionis Israel yaitu Moshe Sharett juga menyampaikan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia melalui telegram yang dikirimkan kepada Mohammad Hatta. Akan tetapi, Soekarno dan Hatta mengambil sikap tegas dalam menanggapi ucapan tersebut. Hatta hanya membalas dengan mengucapkan terima kasih, tanpa menawarkan timbal balik dalam hal pengakuan diplomatik.[7]

Mohammad Hatta bersama Syekh Amin Al Husaini dan para pemimpin negara Arab. Sumber: www.alinea.id

Penolakan terhadap Zionis Israel juga ditunjukkan Presiden Soekarno ketika diadakannya Konferensi Asia Afrika pada 18—24 April 1955 di Bandung, Jawa Barat. Dalam konferensi ini, Soekarno menolak kehadiran Zionis Israel karena penjajahan yang telah mereka lakukan di tanah Palestina.[8]

Pasca-KAA, sikap penolakan terhadap penjajahan juga ditunjukkan oleh Soekarno pada ajang Piala Dunia 1957. Saat itu, Tim Nasional Indonesia berhasil mengalahkan Tiongkok dan lolos di zona Asia. Indonesia tinggal selangkah lagi untuk bisa masuk ke Piala Dunia 1958 di Swedia. Akan tetapi, untuk bisa sampai di tahap tersebut, Indonesia harus melawan tim Zionis Israel. Soekarno pun mengambil keputusan bahwa Indonesia tidak akan melanjutkan pertandingan, karena hal tersebut sama saja dengan mengakui keberadaan Zionis Israel.[9] Indonesia pun mengundurkan diri secara terhormat dalam pertandingan besar itu.

Ketika Indonesia menjadi tuan rumah ASIAN GAMES IV pada 1962, Presiden Soekarno kembali menunjukkan konsistensinya dalam membela Palestina dan menentang penjajahan Zionis Israel. Presiden Soekarno menolak memberikan visa kepada kontingen yang berasal dari Zionis Israel dan Taiwan, dengan alasan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan dua negara tersebut karena tindakan mereka melakukan penjajahan dan diskriminasi terhadap bangsa lain.

Akibat keputusan Soekarno yang berani ini, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menskors keanggotaan Indonesia untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Soekarno kemudian memutuskan bahwa Indonesia keluar dari IOC pada 1963, lalu membentuk olimpiade tandingan yang diberi nama Ganefo (Games of the New Emerging Forces) pada tahun yang sama sebagai bukti bahwa Indonesia tidak bergantung pada kekuatan dunia yang ada. Dalam kesempatan itu, Presiden Soekarno juga menyampaikan kalimat dukungannya terhadap Palestina, “Selama kemerdekaan Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajah Israel. “

Melihat kegigihan dan totalitas Presiden Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, telah menjadi kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia untuk melanjutkan perjuangan beliau. Sudah sepatutnya juga kita mengambil sikap sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri kita, Ibu Retno Marsudi[10], mengenai Palestina. “Kita tidak boleh membiarkan orang Palestina tidak punya pilihan lain selain menerima ketidakadilan selama sisa hidup mereka. Oleh karena itu, ketidakadilan ini harus kita hentikan sekarang juga. Kita harus melanjutkan dukungan kita kepada Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan dan keadilan mereka.”[11] Demikian potongan pidato yang disampaikan oleh Ibu Retno Marsudi pada 20 Mei 2021.

Palestina, sejak dulu telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita dengan segenap kekuatan. Dukungan moral, upaya diplomasi, bahkan bantuan materi telah mereka berikan hingga kini kita bisa dengan bangga mengatakan, “Merdeka!”. Kini, saatnya kita bersikap seperti Soekarno, tegas dalam menentang penjajahan Israel, selain juga bersikap sebagai kawan dekat yang senantiasa ada pada saat yang lain tidak ada; berupaya membantu dengan segala potensi terbaik yang dimiliki, sampai kemerdekaan Palestina tercapai. Hingga waktu itu tiba, mari maksimalkan perjuangan dan terus jaga saudara-saudara kita di Palestina dengan doa terbaik yang kita langitkan.

 

Referensi:

[1] https://adararelief.com/peran-palestina-terhadap-kemerdekaan-ri/

[2] https://observerid.com/palestine-the-first-to-recognize-indonesian-independence/

[3] http://eltaher.org/biography/english/biography_p71_en.html

[4] http://eltaher.org/index_continued_en.html, https://www.paljourneys.org/en/biography/25337/muhammad-ali-al-taher

[5] https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/41756/1/MASHLIHATUZ%20ZUHROH-FUF.pdf

[6] https://www.republika.co.id/berita/qtbg4i282/jejak-sejarah-palestina-di-indonesia-part1

[7] https://historia.id/politik/articles/israel-akui-kedaulatan-indonesia-PGrev/page/1

[8] https://voi.id/memori/52392/bung-karnos-endless-support-for-palestine

[9] https://historia.id/politik/articles/sukarno-dan-palestina-Dw5OP/page/2

[10] https://adararelief.com/kami-bersama-pemerintah-indonesia-dukung-penuh-kemerdekaan-palestina/

[11] https://kemlu.go.id/portal/en/read/2493/berita/statement-by-he-retno-lp-marsudi-minister-for-foreign-affairs-republic-of-indonesia-20-may-2021

Leave a Reply