Kami Bersama Pemerintah Indonesia: Dukung Penuh Kemerdekaan Palestina!

Jumat, 22 Mei 2021 pukul  02.00 dini hari menjadi momen bersejarah bagi Palestina. Israel akhirnya bersepakat untuk melakukan gencatan senjata. Tidak lagi membombardir Gaza dan meluluhlantakkan bangunan-bangunan di sana. Juga tak lagi ada korban jiwa, terlebih anak-anak dan perempuan Palestina.  Setidaknya sementara.

Kumandang takbir bersautan di Gaza malam itu. Mereka merayakan Ied yang ‘terlambat’ menyapa. Di hari ied yang fitri dan mulia, harusnya mereka bersuka cita. Bercengkerama dengan sanak keluarga. Tapi apa daya, karena serangan roket dan rudal, malam Ied penduduk Gaza justru diliputi dengan suasana mencekam lagi gulita. Jika di Indonesia kembang api menghiasi malam nan Fitri lagi mulia. Di Gaza, malam penuh kesucian itu dihiasi rudal-rudal dan ledakannya yang merusak telinga.

Baca juga: BREAKING NEWS: Gencatan Senjata di Gaza, Perjuangan Kita Belum Usai

Tentu kami bersuka cita. Adara Relief International, sebagai NGO kemanusiaan untuk anak dan perempuan Palestina, ikut bergembira mendengar kabar tak akan ada lagi serangan udara. Namun demikian, kita tahu perjuangan kita belum usai. Kita belum boleh beralih jalan. Kita belum boleh terlalu lama bersuka cita. Sebab soal Palestina, bukan sekedar soal Gaza. Soal Palestina, bukan sekedar soal gencatan senjata. Atau berhentinya rudal-rudal di angkasa Gaza.

Soal Palestina adalah soal penjajahan yang membelenggu dirinya. Soal terpenjaranya Gaza 14 tahun terakhir. Tiadanya air bersih, sebab hanya tersisa 3 persen saja yang layak minum. Ketiadaan lapangan kerja karena dimiskinkan, sehingga setengah generasi muda di Gaza pengangguran. Juga langkanya listrik, sebab dijatah hanya tersedia tiga jam saja tiap harinya.

Soal Palestina adalah soal creeping annexation  atau ‘aneksasi merayap’ di wilayah Tepi Barat. Diam-diam tanpa henti, wilayah-wilayah Palestina diokupasi. Tergantikan oleh pemukim-pemukim ilegal Yahudi. Soal Palestina adalah soal penduduk Syekh Jarrah yang selama beberapa dekade ini, lagi-lagi, hendak diusir paksa tanpa alasan berarti. Soal Palestina adalah soal ethnic cleansing, apartheid dan tentunya okupasi. Ini penjajahan, bukan soal pengusiran atau sekedar konflik dalam negeri.

Soal Palestina adalah soal kekerasan yang harus diterima oleh penduduk Al Quds dan para pengibadah di masjid Al Aqsa. Tanpa alasan dan sebab, bom-bom molotov ataupun gas air mata akan mereka terima meski sekedar hendak bersujud menyembah Rabb-Nya. Sejak tahun 1967, pasukan militer Zionis menjamah kota Al Quds Timur, Jerusalem. Tempat suci bagi tiga agama. Wilayah internasional yang harusnya dilindungi dunia. Tapi nyatanya, hari ini kita lihat betapa digdayanya zionis menjajah Al Quds yang mulia.

Baca juga: Dampak Panjang Agresi Zionis Bagi Krisis Kemanusiaan Di Palestina

Maka kami disini, mendukung penuh langkah Indonesia yang diwakili menlu tercinta, ibu Retno Marsudi yang dengan gagah membela Palestina. Kami disini, bersama Ibu, mendukung penuh perjuangan untuk membela kemanusiaan dan keadilan bagi Palestina. Untuk menghentikan kekerasan dan menyelamatkan nyawa penduduk yang tak berdosa, terlebih anak dan perempuan Palestina.

Kami sepakat, bahwa kita harus menghadirkan pihak internasional untuk memantau, memonitor dan memastikan keselamatan orang-orang Palestina, tidak hanya di Gaza tetapi juga di wilayah pendudukan dan melindungi masjid Al Aqsa. Kita tahu hari-hari belakangan ini, tak sampai sehari kesepakatan gencatan senjata, Israel kembali melakukan kekerasan di dalam komplek masjid Al Aqsa. Pun demikian wilayah pendudukan lainnya, kekerasan-kekerasan terhadap penduduk Palestina masih terjadi.

Kami mendukung sepenuhnya usulan Ibu kepada PBB soal kepastian akses kemanusiaan dan perlindungan sipil. Gaza telah terkepung 14 tahun lamanya. Ia terpenjara, dan jika tidak dibuka, maka diam-diam ia akan menjadi pusara bagi warganya. Dan bukan hanya Gaza, di wilayah lain penduduk Palestina harus menerima perlakukan yang berbeda hanya karena mereka: bangsa Palestina. Mereka harus melewati jalan-jalan yang berbeda, dengan tembok-tembok rasial yang mengelilingi seluruh wilayah mereka. Ini tentu mengingatkan kita pada sejarah kelam kejahatan kemanusiaan di Afrika Selatan sana. Tak ada pula yang bisa melindungi mereka, pasukan keamanan disana tidak ditujukan untuk menjaga mereka. Bahkan seringkali, pasukan itulah yang menyerang para penduduk sipil Palestina secara membabi buta.

Kami sepenuhnya berada di jalan yang sama dengan Ibu, kami mendukung upaya perdamaian dengan menempatkan Palestina sebagai pihak yang memiliki kedudukan yang adil dan setara. Kami juga menolak upaya-upaya digdaya yang menginginkan Palestina dibungkam suaranya. Palestina tidak boleh lebih lama lagi dibiarkan untuk menerima ketidakadilan di sisa hidup mereka. Kami sepakat, sejalan, dan satu kata bahwa: Palestina berhak untuk mendapatkan kemerdekaan dan keadilan mereka.

 

Fitriyah Nur Fadilah

Pengurus Adara Relief International, Lembaga Kemanusiaan untuk Anak dan Perempuan Palestina

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Bagi Sahabat Adara yang ingin menyalurkan donasi untuk bantuan untuk perempuan dan anak Palestina, dapat melalui rekening bantuan untuk Palestina a.n Yayasan Adara Relief International:

  1. Bank Muamalat: 309-000-2717
  2. Bank Mandiri: 070-000-5658799
  3. OVO / Gopay: 087780464183.

Konfirmasi donasi dapat dilakukan melalui WhatsApp ke nomor 085692956689.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Leave a Reply