fbpx

Kita dan Para Murobithoh

Murobithoh (plural: murobithot) adalah sebutan bagi para wanita Al Quds yang melakukan ribath (berjaga) di Al Quds. Sebutan itu bukanlah hanya bagi para wanita al Quds yang  membaca Alquran di sekitar Masjid Al Aqsa, tetapi semua yang memakmurkan Al Aqsa dengan niat menjaganya. Termasuk murobithoh juga adalah para wanita yang datang ke masjid Al Aqsa untuk melaksanakan salat, juga yang menghadiri halaqah-halaqah tahfidz para wanita, yang biasanya berada di Musala Marwani, Masjid Qibli, dan Qubbah Shakrah.

Pun termasuk murobithoh para peserta beragam jenis lomba untuk anak yang diadakan para wanita dewasa di sekitar Al Aqsa, peserta halaqah-halaqah keilmuan tentang Alquran dan hadits, pasangan pengantin yang melangsungkan akad nikah di Al Aqsa, para wanita yang tinggal di sekitar masjid yang melakukan salah Dhuha di dalam Masjid Al Aqsa, yang menjalankan program memberi makan bagi yang berpuasa, memberi minum untuk orang-orang yang berada di Masjid Al Aqsa dan sebagainya.

Beberapa murobithoh yang terkenal di antaranya Fatima Mohammed  Bernawi. Ia merupakan wanita Al Quds pertama yang ditawan oleh tentara penjajah pada 1967. Ia seorang  penulis yang mendedikasikan perjuangannya dengan menulis lebih dari 1000 artikel yaitu Samah Jabeer, Hanady Halawany yang sampai saat ini telah 25 kali keluar masuk penjara Israel. Juga Khadijah Khuweis, guru Alquran di Al Aqsa yang juga telah berulang kali menerima perlakuan tidak manusiawi di penjara Israel.

Salah satu tokoh perempuan Al Quds yang cukup banyak diangkat kasusnya adalah Isra Jabis. Dia dituding oleh Israel melakukan aksi bunuh diri setelah mobil yang dikendarai meledak di dekat pos penjagaan. Namun dia menolak segala tudingan tersebut. Sekujur tubuhnya terbakar akibat ledakan menyusul masalah teknis di mobilnya. Ledakan itu juga membuat beberapa tulangnya patah. Jaabis mengatakan melalui pengacaranya bahwa dia tidak mendapatkan perawatan memadai dalam penjara Israel (IPS). Jaabis mengalami luka bakar stadium tiga dan pertama dengan kondisi 60 persen terbakar sehingga dia sangat tergantung kepada rekan-rekan sesama tahanan jika melakukan tugasnya. Delapan jari tangannya diamputasi karena meleleh saat dia dipanggang api mobil.

Para murobithoh yang ditawan menghadapi kekerasan verbal dan fisik (ill-treatment), hingga yang paling menghinakan mereka kehormatan mereka sebagai perempuan adalah pelecehan seksual hingga pemeriksaan hingga telanjang (strip searching) Sebagian besar mereka ditahan karena melakukan protes, meneriakkan takbir atau melempar batu. Saat ini jumlah penjaga Masjid Al Aqsa sekitar 600 orang laki-laki dan 650 orang perempuan.

Ribath yang dilakukan oleh penduduk Al Aqsa termasuk kaum perempuan ini sejatinya  adalah  untuk memakmurkan masjid, karena biasanya orang-orang Yahudi akan memaksa masuk masjid pada sekitar jam 7-12 siang. Maka dari itu, muslim pun berusaha meramaikan masjid dengan berbagai kegiatan untuk membatasi usaha Yahudi.

Para murabithoh memulai gerakannya karena menyakini bahwa kekuatan suara wanita lebih hebat daripada apapun di dunia ini. “Wanita-wanita Palestina telah mengambil peran strategis mereka sendiri untuk melindungi kompleks Masjid Al Aqsa dari pelanggaran ekstremis Israel,” tulis Daoud Kuttab, seorang jurnalis Palestina.

Salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menginspirasi penduduk Palestina untuk bertahan, termasuk kaum perempuannya adalah hadits berikut ini:

فقد روى الطبراني في معجمه الكبير قال حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن النَّضْرِ الْعَسْكَرِيُّ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بن حَفْصٍ النُّفَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا مُوسَى بن أَعْيَنَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ فِطْرِ بن خَلِيفَةَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَوَّلُ هَذَا الأَمْرِ نُبُوَّةٌ وَرَحْمَةٌ، ثُمَّ يَكُونُ خِلافَةً وَرَحْمَةً، ثُمَّ يَكُونُ مُلْكًا وَرَحْمَةً، ثُمَّ يَكُونُ إِمَارَةً وَرَحْمَةً، ثُمَّ يَتَكادَمُونَ عَلَيْهِ تَكادُمَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْكُمْ بِالْجِهَادِ، وَإِنَّ أَفْضَلَ جهادِكُمُ الرِّبَاطُ، وَإِنَّ أَفْضَلَ رباطِكُمْ عَسْقَلان

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Permulaan dari perkara Islam ini adalah kenabian dan rahmat. Kemudian tegaknya khilafah dan rahmat. Kemudian berdiri kerajaan dan rahmat. Kemudian berlaku pemerintahan (kerajaan kecil-kecil) dan rahmat. Kemudian orang-orang memperebutkan kekuasaan seperti kuda-kuda yang berebut makanan. Maka (pada saat seperti itu), hendaklah kalian berjihad. Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah ribath, dan sebaik-baik ribath kalian adalah di Asqalan.” [HR. Thabrani].

Hadits ini juga  menjiwai para perempuan Al Quds yang tinggal di sekitar Masjid Al Aqsa untuk melakukan penjagaan. Terlebih juga karena  kaum lelaki sangat dibatasi untuk bisa masuk ke komplek Masjid Al Aqsa.

“Dengan jiwa dan darah kami, kami akan membebaskanmu Al Aqsa.” Dengan kata-kata inilah para wanita Palestina memulai perlawanan mereka terhadap kota Al Quds. Lebih khusus lagi, menentang agresi politik dan militer Zionis terhadap situs-situs suci Islam, seperti Mesjid Jami’ al Qibly, Musala Al Marwani, dan Kubbah ash-Sakhrah.

Ketidakpastian untuk berkumpul kembali dengan suami yang ditahan telah menyebabkan perempuan Palestina menghabiskan sebagian besar hidup mereka sebagai orang tua tunggal. Mereka harus memikul tanggung jawab besar untuk membesarkan satu generasi dengan kekuatan sendiri.

Keadaan yang menimpa perempuan Palestina berupa penangkapan, penembakan, penculikan, menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan lain di seluruh dunia untuk melakukan dukungan terhadap para murobithoh dan wanita Palestina pada umumnya.

Dr. Raghib Sirjani menyebutkan 10 (sepuluh) kewajiban kaum wanita terkait Baytul Maqdis dan Palestina.  Pertama, menyiapkan generasi Islam yang saleh dan heroik; Kedua, melakukan aksi boikot dan menjelaskannya kepada  anak-anak; Ketiga, menyuarakan permasalahan dan tragedi Palestina di kalangan wanita; Keempat, mendidik anak-anak agar cinta terhadap Palestina; Kelima, menjalin komunikasi dengan kaum wanita Palestina; Keenam, berdonasi dengan perhiasan/harta yang dimiliki; Ketujuh, aktif mengikuti perkembangan berita Palestina; Kedelapan, ikut terjun langsung dalam aksi-aksi solidaritas Palestina  yang digalang kaum wanita; Kesembilan, menumbuhkan sikap optimis akan kemenangan kaum muslimin, dan kesepuluh, menjadi  teladan dan contoh kebaikan (bagi Palestina).

Dengan berbagai kondisi yang melingkupi mereka, perempuan Al Quds memang istimewa. Perempuan di belahan dunia mana pun, perlu mengerti kondisi ini. Bahwa di zaman modern saat ini, hanya Palestina satu-satunya negara yang masih dijajah. Dan Zionis Israel satu-satunya kelompok yang didiamkan menjajah Palestina. Dan menjadi bagian dari Murabithoh di Masjid Al Aqsa, adalah salah satu persembahan penting dilakukan perempuan Al Quds untuk meraih kemerdekaan mereka. Bagaimana dengan kita?

Disusun oleh Sri Vira Chandra (Ketua Adara Relief International)

Referensi :

Ikuti akun Instagram resmi @adararelief untuk info seputar Palestina lainnya.

Dukung Perjuangan Rakyat Palestina Melalui 6 Program Bantuan Adara. Baca selengkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas